Jumat, 27 April 2012

Penerapan Konseling Trait And Factor  Pada Siswa Yang Mengalami Kesulitan Memilih Program Penjurusan Bahasa


Oleh:
Desta Putu Wikarta ( Alumni prodi BK Unesa)
Mochamad Nursalim  ( Staf pengajar prodi BK Unesa)

Sumber Jurnal:

Jurnal Psikologi dan Bimbingan
Universitas Negeri Surabaya
Volume 10 Nomor 1 Juli 2009
http://ppb.jurnal.unesa.ac.id

Abstrak : 

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan tingkat kesulitan dalam pilihan program penjurusan bahasa sebelum dan sesudah penerapan konseling Trait and Factor siswa kelas X-6 SMA NEGERI 2 Lamongan. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan pre-test post-test one group design. Metode pengumpul data yang digunakan adalah angket, obsevasi dan wawancara. Subjek penelitian adalah 5 siswa yang mengalami kesulitan memilih program penjurusan bahasa dari siswa kelas X-6 SMA NEGERI 2 Lamongan. Berdasarkan teknik analisis data yang di pakai adalah uji tanda dengan N=5 dan X=0 diperoleh ρ=0,031 harga ini lebih kecil daripada α = 0,05. dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi hipotesis yang berbunyi “ada perbedaan yang signifikan antara tingkat kesulitan dalam pilihan program penjurusan bahasa kelas X-6 SMA NEGERI 2 Lamongan antara sebelum dan sesudah penerapan konseling Trait and Factor” dapat diterima.

Kata kunci : Konseling Trait and Factor, kesulitan memilih program penjurusan bahasa

Pendahuluan

Super (dalam Suharlinah, 2006) menguraikan, anak mulai mengembangkan bakat dan minatnya terhadap satu atau beberapa bidang, walaupun masih bersifat eksploratif (mencari-cari/mencoba-coba). Sejalan dengan teori super ini maka perkembangan karir dapat disamakan dengan proses perkembangan konsep diri. Apabila konsep diri berubah maka akan terjadi perubahan pula dalam memilih karir.

Banyak orang berpandangan, pilihlah jurusan yang gampang (gampang masuk dan gampang lulus), supaya gampang dapat pekerjaan dan regardless sesuai minat atau tidak. Sebenarnya pandangan ini perlu ditinjau ulang karena memilih suatu jurusan bukanlah persoalan yang mudah. Untuk memilih jurusan, siswa perlu memperhitungakan beberapa faktor seperti kemampuan, minat, bakat, kepribadian, dan lain-lain. Salah memilih jurusan punya dampak yang signifikan terhadap kehidupan anak di masa mendatang.

Berdasarkan hasil studi awal di SMA Negeri 2 Lamongan didapati siswa yang mengalami kebingunan untuk memilih jurusan yang ingin diminati, khususnya jurusan bahasa. Para siswa kelas X cenderung pesimis jika melihat jumlah kakak kelas yang ada di kelas XI Bahasa dengan jumlah siswa yang sedikit. Sebenarnya siswa ingin masuk ke jurusan Bahasa, hanya saja melihat kapasitas siswa yang masuk di kelas XI tahun ini sangat sedikit sehingga enggan memilih jurusan bahasa nantinya. Ada terdapat 5 siswa dalam satu kelas berkeinginan masuk jurusan Bahasa. Itupun belum semua siswa kelas X-6 yang di data berminat memilih jurusan IPA, IPS ataupun Bahasa.

Pandangan orang tentang jurusan bahasa, bahwa siswa yang terjaring ke dalam Jurusan Bahasa tidak lebih dari siswa "buangan" yang tidak tertampung pada jurusan favorit IPA atau IPS. Siswa yang berminat untuk masuk jurusan bahasa dengan yang tidak berminat terhadap jurusan bahasa ternyata tidak lebih baik dari yang tidak berminat masuk ke jurusan bahasa

Padahal, dengan mendalami bahasa, mempelajari berbagai ilmu pengetahuan semakin mudah disamping memperkaya wawasan, pengalaman dan pergaulan. Sementara itu, agar bisa menguasai bahasa asing tertentu, terutama yang menjadi materi pelajaran di sekolah, para siswa banyak yang memilih kursus atau pelajaran tambahan secara informal setelah jam pelajaran sekolah usai. Bursa kerja sekarang........

Baca makalah ini selengkapnya sebagaimana aslinya di sini.


Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Metode Active Learning Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Kelas 2/B MI Islamiyah Geluran Taman Sidoarjo Tahun Pelajaran 2009-2010


Oleh:
Sukamto
MI Nurul Huda, Kapongan Situbondo

Sumber Jurnal:

Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010 Halaman 99 - 110. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam (JPTK-PAI) diterbitkan oleh Laboratorium Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya bekerjasama dengan Madrasah Development Center (MDC) Kementerian Agama Wilayah Jawa Timur, dan Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAI) Jawa Timur.

Abstrak:

Penelitian Tindakan Kelas merupakan salah satu upaya dalam menyelesaikan masalah pembelajaran di kelas. Pada PTK ini, peneliti akan melakukan penelitian tentang,”Upaya Peningkatan Hasil Belajar siswa melalui metode active learning pada mata pelajaran Akidah Akhlak Kelas 2/B MI Islamiyah Geluran Taman Sidoarjo Tahun Pelajaran 2009-2010. Rumusan masalah pada PTK ini, adalah “bagaimanakah upaya peningkatan Hasil Belajar siswa melalui metode active learning pada mata pelajaran Akidah Akhlak Kelas 2/B MI Islamiyah Geluran Taman Sidoarjo Tahun Pelajaran 2009-2010?”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya meningkatkan hasil belajar siswa dalam penggunaan metode active learning di MI Islamiyah Geluran Taman Sidoarjo. Metode yang digunakan adalah observasi, interview dan dokumentasi. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencaan/rencana awal, tindakan, observasi, refleksi dan tindakan ulang. Subyek dari penelitian adalah seluruh siswa kelas IIb MI Islamiyah Geluran Taman Sidoarjo dengan jumlah 50 anak dalam mata pelajaran Akidah Akhlak pokok bahasan adab meludah. Berdasarkan hasil analisis didapat bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus II yaitu siklus I daya serap 78 % dan siklus II daya serap 92 %. Dari hasil penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran akidah akhlak di kelas IIb di MI Islamiyah Geluran Taman Sidoarjo hendaknya dilakukan sesuai dengan perilaku akhlak sehari-hari.

Kata kunci: Hasil belajar dan Pembelajaran active learning, ptk.

Pendahuluan

Penggunaan metode pembelajaran disetiap mata pelajaran sangat penting, karena tidak semua metode pembelajaran tepat untuk semua penyampaian, waktu kondisi, dan bidang studi. Salah satu penentu dalam kegiatan belajar mengajar adalah metode. Metode pengajaran adalah suatu cara untuk menyajikan pesan

pembelajaran, sehingga pencapaian hasil pembelajaran dapat optimal. Dalam setiap proses pembelajaran termasuk Akidah Akhlak. Metode memiliki kedudukan yang penting dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran. Tanpa metode, suatu pesan pembelajaran tidak akan dapat berproses secara efektif dalam kegiatan belajar mengajar ke arah yang dicapai (Rohmat, 1999:1).
Ketika praktikan melakukan pembelajaran Akidah Akhlak di MI Islamiyah Geluran Taman Sidoarjo pada materi adab buang angin antusias siswa dalam pembelajaran sangat kurang sekali dikarenakan (1) metode yang digunakan oleh praktikan masih bersifat monoton, (2 banyaknya siswa yang melebihi kapasitas (50 orang). Ternyata penggunaan metode ceramah untuk pembelajaran akidah akhlak masih belum efektif. Oleh sebab itu, praktikan mencoba mencari sebuah metode yang bisa melibatkan siswa dalam pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi aktif dan kreatif.

Melihat fenomena di atas, praktikan mempunyai inisiatif untuk merubah metode yang sering dilakukan yakni menggunakan metode ceramah dirubah ke metode active learning dengan tujuan agar ada perubahan dan peningkatan ditingkat pemahaman anak didik dalam menyerap sebuah materi pelajaran khususnya dibidang mata pelajaran Akidak Akhlak.

Penerapan metode active learning di MI Islamiyah desa Geluran Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo merupakan respon yang baik terhadap perkembangan mutakhir sistem pendidikan di Indonesia khususnya dalam pembelajaran Akidah Akhlak, yang merupakan mata pelajaran penting sekaligus pendukung bagi mata pelajaran lainnya.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, “bagaimana upaya peningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas II MI Islamiyah Geluran Taman Sidoarjo?”. Adapun tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya meningkatkan hasil belajar siswa dalam penggunaan metode active learning di MI Islamiyah Geluran Taman Sidoarjo.
Hasil penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi pengelolaan pembelajaran, khususnya bagi guru yang mengajar Akidah Akhlak, yaitu (1) memiliki gambaran tentang pembelajaran active learning yang efektif, (2) dapat menidentifikasikan permasalahan yang timbul di kelas, sekaligus mencari solusi pemecahannya, (3) dipergunakan untuk menyusun program penilaian efektifitas pembelajaran model active learning pada tahap berikutnya.

Baca makalah ini sebagaimana aslinya di sini.

Kamis, 26 April 2012

Penerapan Konseling Kelompok Trait Factor untuk Mengatasi Kesulitan dalam Perencanaan Karir pada Siswa


Oleh:
Ary Wahyu Ratnaningtyas ( Konselor pada SMK di Sidoarjo )
Satiningsih ( Staf Pengajar Prodi Psikologi Unesa)

Sumber Jurnal:

Jurnal Psikologi dan Bimbingan
Universitas Negeri Surabaya
Volume 12 Nomor 1 Juli 2011
http://ppb.jurnal.unesa.ac.id

Abstrak

Tujuan penelitian ini untuk menguji keefektifan penggunaan konseling kelompok trait factor untuk mengatasi kesulitan dalam perencanaan karir pada siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pre eksperimen berupa one group pre-test and post-test design. Subyek penelitian ini 10 orang siswa XI-3 jurusan administrasi perhotelan SMK Negeri 6 Surabaya yang mempunyai skor kesulitan dalam perencanaan karir rendah. Penentuan subyek penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket tertutup. Teknik analisis data yang digunakan yaitu Uji Tanda, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada skor perencanaan karir antara sebelum dan sesudah pemberian perlakuan yaitu konseling kelompok trait factor. Karena pada nilai (0.002) lebih kecil dari taraf nyata (0.05). Maka hipotesis (HO) ditolak dan (HI) diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok trait factor dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan dalam perencanaan karir pada siswa.

Kata kunci : Konseling kelompok trait factor, perencanaan karir


Sebagian isi makalah/jurnal:

Metode

Penelitian ini dikategorikan sebagai jenis penelitian pre-eksperimen dengan model pendekatan pre-test post-test one group design yaitu eksperimen yang dilakukan pada satu kelompok tanpa kelompok pembanding. Menurut Arikunto (2002: 78) mengungkapkan “pre-test post-test one group design adalah penelitian ini dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum eksperimen (pre-test) dan sesudah ekperimen (post-test) dengan satu kelompok subjek.”

Perlakuan ini diberikan sebanyak 8 kali pertemuan kepada sejumlah siswa kelas XI-3 jurusan Administrasi Perhotelan SMK Negeri 6 Surabaya yang memiliki perencanaan karir rendah. Dengan menggunakan konseling kelompok trait factor. Adapun prosedur perlakuannya telah disusun dalam bentuk modul perlakuan yang sedikit mengadaptasi dari tahap-tahap yang dikemukakan oleh Nixon dan Glover, serta Williamson (dalam Winkel dan Sri Hastuti, 2004).

Data yang terkumpul melalui angket akan diolah dengan menggunakan analisis statistik non parametrik dengan uji tanda. Alasan menggunakan uji tanda ini dikarenakan sampel kurang dari dua puluh lima orang. Dijelaskan oleh Sugiono bahwa “uji tanda (sign-test) digunakan untuk menguji hipotesis komporatif dua sampel yang berkorelasi dan uji tanda digunakan........

Baca makalah ini selengkapnya sebagaimana aslinya di sini.

Selasa, 24 April 2012

Blog penelitian tindakan kelas dan model pembelajaran kali ini menyajikan tulisan tentang Implikasi Teori Behaviorisme (Tingkah Laku) dalam pembelajaran. Yuk kita simak.

Meskipun para praktisi pendidikan saat ini sangat dipengaruhi oleh Teori Belajar Konstruktivisme (Membangun Makna), ada 4 aspek dalam bidang pendidikan saat ini yang masih sangat berhubungan erat dengan Teori Belajar Behaviorisme, yaitu: (1) perencanaan kurikulum; (2) tujuan pembelajaran; (3) asesmen; dan (4) manajemen perilaku.Teori belajar Behaviorisme memiliki aspek-aspek kelebihan karena itu masih sangat berpengaruh dalam pembelajaran di kelas.

Perencanaan Kurikulum
Di bawah ini merupakan langkah-langkah perencanaan kurikulum yang umum dilakukan oleh guru-guru pada beragam level lembaga pendidikan:
  • Mengidentifikasi kebutuhan pada program
  • Menentukan tujuan dan indikator pembelajaran pada program
  • Mendaftar tujuan pembelajaran secara akurat
  • Mengkategorikan tujuan pembelajaran berdasarkan taksonomi Bloom
  • Membagi materi ajar ke dalam unit-unit atau bagian-bagian yang lebih kecil
  • Secara hati-hati mengurutkan unit-unit tersebut di atas
  • Menyediakan banyak kesempatan untuk latihan-latihan untuk memperkuat ikatan stimulus-respon
  • Memastikan bahwa pebelajar memberikan respon (melakukan sesuatu)
  • Mengamati dan mengases perubahan perilaku
  • Memberikan umpan balik (feed back) kepada pebelajar
  • Menguatkan (reinforce) perilaku yang sudah benar dengan penghargaan (reward)
  • Mengevaluasi keefektifan program
  • Memodifikasi dan memperbaiki program

Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan tujuan pendidikan berdasarkan perubahan tingkah laku sebagaimana yang tersebut di atas, sangat umum digunakan dalam dunia pendidikan meskipun aplikasinya lebih nampak ketika tingkah laku lebih mudah teramati. Penggunaannya menjadi lebih sulit ketika diaplikasikan pada pemikiran internal (dalam otak) dan proses berpikir internal sesorang. Tujuan pembelajaran adalah sebuah pernyataan eksplisit tentang apa yang akan pebelajar dapat lakukan sebagai hasil dari menyelesaikan suatu kegiatan pembelajaran. Pernyataan tujuan pembelajaran terdiri dari:
  • Aksi, yang diekspresikan dengan kata kerja tingkah laku yang tepat
  • Konteks, yang memerlukan referensi syarat (kondisi) dari tingkah laku
  • Ambang batas, yang merupakan suatu indikasi untuk menunjukkan bahwa suatu tingkah laku dapat diterima / dianggap benar
Tujuan pembelajaran membantu pebelajar pada semua level untuk memahami secara tepat apa yang diharapkan dari mereka dan kegiatan belajar apa yang harus mereka lakukan.

Asesmen
Seringkali dianggap bahwa asesmen yang efektif haruslah tes kinerja tentang tingkah laku yang dinyatakan dalam tujuan pembelajaran pada kondisi (syarat) yang sama dengan kondisi saat mereka belajar / mempelajari tingkah laku tersebut. Contoh, jika tujuan pembelajaran menyatakan bahwa seorang calon tukang kayu akan dapat memasang sebuah daun pintu, maka asesmen haruslah meminta calon tukang kayu untuk memasang daun pintu daripada meminta calon tukang kayu menjelaskan teknik memasang daun pintu dalam ujian tertulis.  

Prinsip-prinsip teori behaviorisme mungkin juga terlihat jelas pada asesmen berdasarkan kriteria (criterion referenced assessment). Saat pebelajar diases dengan asesmen berdasarkan kriteria, dimungkinkan untuk melihat bahwa semua yang dilakukan oleh pebelajar telah memenuhi semua kriteria yang dimaksudkan pada tingkat yang memuaskan. Prinsip-prinsip behaviorisme juga berguna sebagai bagian dari tes formatif, yang merupakan sebuah tes yang dirancang untuk menyediakan feed back (umpan balik) baik untuk pebelajar maupun untuk guru itu sendiri. Formatif asesmen dapat memotivasi pebelajar.

Manajemen Tingkah Laku
Mengubah atau menguatkan tingkah laku pebelajar adalah tujuan pembelajaran kebanyakan program pembelajaran di tingkat sekolah dasar. Sebagai bagian dari proses manajemen tingkah laku, guru dapat menggunakan teknik operant-conditioning, yang telah diklaim oleh Skinner paling efektif untuk memberikan motivasi belajar (Skinner 1969). Penguatan positif (postive reinforcement) atau penggunaan pujian sebagai pemotivasi merupakan dasar dari pemberian reward kepada pebelajar. Penguatan dapat berupa:
  • Materi, berupa hadiah atau award
  • Sosial, seperti perhatian guru, atau pujian
  • Hal yang berkaitan dengan aktivitas, seperti kesempatan untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan.

Pebelajar mungkin selalu mencoba menghindari tertangkap basah melakukan kegiatan / tingkah laku yang tidak sesuai dengan harapan guru. Penggunaan sanksi atau konsekuensi adalah hukuman yang diperbolehkan karena strategi ini merupakan bagian dari teknik operant-conditioning.

Upaya Meningkatkan Proses Belajar dan Hasil Belajar Fiqih melalui Pendekatan Active Learning pada Siswa Kelas III MINU Pucang Sidoarjo.


Oleh:

Asmaul Khusna
(MI Darul Huda, Gresik)

Sumber Jurnal:

Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam Volume 01, Nomor 01, Juni 2010 Halaman 122 - 132. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Agama Islam (JPTK-PAI) diterbitkan oleh Laboratorium Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya bekerjasama dengan Madrasah Development Center (MDC) Kementerian Agama Wilayah Jawa Timur, dan Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAI) Jawa Timur.


Abstrak: 

Keberhasilan proses pembelajaran di kelas sebagian ditentukan oleh strategi pembelajaran. Oleh karena itu, setiap akan mengajar guru diharuskan untuk menerapkan strategi atau metode tertentu dalam pelaksanaan pembelajaran. Penelitian ini berdasarkan permasalahan, ”bagaimanakah upaya peningkatan proses belajar dan hasil belajar siswa melalui pendekatan active learning pada pelajaran Fiqih kelas III MINU Pucang Sidoarjo?”. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya peningkatan proses belajar dan hasil belajar siswa setelah diterapkannya strategi pembelajaran dengan pendekatan active learning pada pelajaran Fiqih kelas III MINU Pucang Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak dua putaran atau siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas III. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu, siklus I (32,35%), siklus II (67,64%), siklus III (97,05%). Simpulan dari penelitian ini adalah model pembelajaran active learning dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa Kelas III serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran Fiqih.

Kata kunci: Belajar Fiqih, Active Learning.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. Penelitian ini akan dihentikan apabila ketuntasan belajar secara klaksikal telah mencapai 85% atau lebih. Jadi dalam penelitian ini, peneliti tidak tergantung pada jumlah siklus yang harus dilalui.
Tempat penelitian ini bertempat di MINU Pucang tahun pelajaran 2009/2010. Adapun waktu penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – April semester genap 2009/2010. Sedangkan subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas III sebanyak 34 orang.

Rancangan penelitian

Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih yaitu penelitian tindakan kelas, maka peneliti ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (Sugiarti, 1997: 8) yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelumnya masuk pada siklus I dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar:

Baca makalah ini sebagaimana aslinya di sini.

Pada sisi negatif, behaviorisme sangat dikaitkan dengan kekuasaan dan kontrol, serta selalu dikonotasikan sebagai training untuk hewan. Teori behaviorisme juga sering dikaitkan sebagai model pelatihan di dunia industri yang telah sangat ketinggalan jaman. Teori ini juga dapat dipertimbangkan sebagai teori yang anti-humanistik, dimana teori ini menolak adanya pilihan dan kebebasan dalam diri manusia. Teori behaviorisme gagal untuk menjelaskan faktor-faktor kontekstual seperti faktor kondisi sosial, ekonomi, dan politik dan kekuatan-kekuatan yang memicu munculnya suatu aksi. Teori behaviorisme juga gagal untuk menjelaskan bagaimana terjadinya perbedaan hasil belajar yang disebabkan oleh intelejensi yang diwariskan oleh orang tua dan kepribadian seseorang.

Pada belajar di tingkatan yang lebih tinggi, teknik-tekknik behavioris tidak efektif untuk memicu belajar yang lebih dalam (deep learning), yang mana berkaitan dengan pemahaman dan pembentukan makna. Pada pembelajaran orang dewasa, pembelajaran tingkat lanjut, dan pembelajaran di tingkat pendidikan yang lebih tinggi, juga sangat sulit untuk mengaplikasikan teori behaviorisme karena teori ini gagal menjelaskan proses kreatif dan proses insidental dalam belajar, serta pebelajar mandiri. Secara umum, tampaknya teori behaviorisme adalah teori belajar yang anti intelektualitas.

Di sisi lain, behaviorisme sangat efisien dalam memicu belajar cepat (rapid learning) karena spesifikasi aksi dan tujuan pembelajarannya yang akurat. Prinsip-prinsip behaviorisme juga bermanfaat—yaitu menawarkan saran yang spesifik dan praktis kepada guru atau perancang kurikulum tentang apa yang harus mereka lakukan.

Behaviorisme sesungguhnya tidaklah total antagonistik dengan teori-teori belajar yang lain, bahkan ia dapat eksis bersama-sama berdampingan dengan teori-teori belajar terbaru dengan berfokus pada kognisi atau akuisisi sosial dari pemaknaan. Teori behaviorisme dapat berperan sebagai elemen fondasi bagi proses-proses kognitif yang lebih kompleks. Sebagai contoh, beberapa budaya Asia memandang pentingnya perolehan keterampilan repetitif (berulang / pengulangan) sebagai syarat mutlak untuk perkembangan kreativitas.

Behaviorisme masih menjadi interes bagi para pelajar dan pendidik karena banyak tingkah laku manusia dapat dihubungkan atau dijelaskan oleh teori ini. Beberapa praktisi behaviorisme baru-baru ini banyak bekerja sama dengan dunia pendidikan—termasuk penggunaan tujuan pembelajaran terstandar yang merangsang kemajuan belajar dan belajar sepanjang hayat. Sebenarnya teori behaviorisme dapat dipandang sebagai teori yang lebih memuaskan terutama bila dipandang sebagai pelengkap bagi teori belajar konstruktivisme dan kognitivisme.

Senin, 23 April 2012

Festival IPA

Pendahuluan
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) merupakan lembaga teknis yang salah satu fungsi dan tugasnya adalah meningkatkan kompetensi, kemampuan, keterampilan, wawasan, dan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan IPA. Dalam melaksanakan fungsi dan tugas tersebut salah satu program yang akan dilaksanakan pada tahun 2012 adalah Festival Kreativitas dan Karya Inovasi Guru IPA SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK.

Tema
“Kreativitas Guru untuk Pembelajaran IPA yang Lebih Baik”

Tujuan
  1. Memotivasi guru untuk selalu menciptakan karya inovasi yang dapat meningkatkan proses pembelajaran
  2. Memberikan kesempatan kepada guru yang memiliki karya inovasi dalam pembelajaran untuk mempublikasikan hasil karyanya
  3. Meningkatkan kompetensi guru yang profesional melalui Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB)

Peserta
Guru IPA Jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK

Kriteria Peserta

 A.   Peserta yang didanai oleh PPPPTK IPA (pemakalah)
  1. Guru yang memiliki karya inovasi yang digunakan dalam pembelajaran dan atau memiliki karya ilmiah hasil penelitian
  2. Melakukan registrasi
  3. Mengirim abstrak* hasil karya inovasi atau penelitian
  4. Mengirim laporan lengkap hasil karya inovasi atau penelitian
  5. Lolos seleksi awal
   B.  Peserta dengan dana sendiri (mandiri)
  1. Peserta yang tidak lolos pada seleksi awal
  2. Peserta yang mendaftar pada saat kegiatan
  3. Peserta yang bukan pemakalah

Ruang Lingkup dan Topik
  1. Media pembelajaran/bahan ajar interaktif berbasis komputer untuk setiap standar kompetensi atau beberapa kompetensi dasar.
  2. Alat peraga yang bermanfaat untuk pendidikan
  3. Alat praktikum yang bermanfaat untuk pendidikan
  4. Hasil pengembangan metodologi/evaluasi pembelajaran.

*Abstrak memuat ringkasan hasil penelitian maksimal 200 kata dikirim melalui email ke festivalp4tkipa@gmail.com atau festivalp4tkipa@yahoo.com paling lambat 9 Juli 2012

Untuk Festival kreatifitas dan karya inovasi Abstrak berisi tentang ringkasan ide dasar karya inovasi, alat bahan dan cara pembuatannya, cara penggunaan alat dalam pembelajaran beserta foto-foto. Pada pojok kanan atas diberi kode sesuai dengan kode pada formulir pendaftaran.

Format makalah lengkap ditulis dengan program MS-Word, huruf Arial Fornt 11, kertas ukuran A4, spasi 2,5, jarak tepi kiri dan atas 3 cm, kanan dan bawah 2,5 cm. Format poster berukuran A1 (59,4 cm x 84,1 cm). Prosiding di terbitkan setelah Festival kreatifitas dan Karya inovasi dilaksanakan.

sumber: http://www.p4tkipa.net/festival dan http://p4tkipa.org/lihat.php?id=berita&hari=Jum%27at&tanggal=20&bulan=April&oleh=admin
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!