Jumat, 04 Mei 2012

Keinginan Seorang Guru ...


Berkomitmen pada siswa dan pembelajaran siswa saya dengan:

  • Membuat pembelajaran yang saya lakukan dapat diakses oleh semua siswa saya, dan selalu yakin – percaya bahwa siswa saya mampu belajar dan mengikuti semua pembelajaran bersama saya. 
  • Tidak membeda-bedakan siswa. Mereka kedudukan mereka sama di mata saya, tetapi sekaligus saya menyadari bahwa mereka mempunyai perbedaan-perbedaan yang membuat mereka saling unik satu sama lain. 
  • Memahami bagaimana siswa saya tumbuh dan berkembang serta belajar. Saya akan selalu merhargai perbedaan kultural, agama, sosial, dan keluarga yang masing-masing mereka bawa kedalam kelas saya. 
  • Peduli pada konsep diri yang telah dimiliki siswa saya, motivasi mereka, dan efek dari pembelajaran mereka saat bekerja sama dengan teman-temannya. Peduli dengan perkembangan karakter dan tanggungjawab sosial mereka. 

Mengetahui dan menguasai materi pelajaran yang saya harus ajarkan, serta bagaimana cara membelajarkan materi pelajaran tersebut kepada siswa saya. Hal ini mewujud pada:

  • Penguasaan materi yang saya ajarkan. Dan saya mempunyai pemahaman mendalam tentang sejarah, struktur, dan aplikasi di dunia nyata tentang materi pelajaran itu. 
  • Keterampilan dan pengalaman dalam mengajar saya, di mana saya menyadari secara gamblang konsepsi awal yang dibawa siswa saya sebelum mengikuti pembelajaran bersama saya. 
  • Kemampuan saya untuk menggunakan berbagai strategi mengajar sehingga siswa yang mengikuti pembelajaran saya memperoleh pemahaman yang mantap terhadap materi pembelajaran. 

Bertanggung jawab dengan memanajemen dan memonitor pembelajaran siswa saya melalui:

  • Pembelajaran efektif yang saya laksanakan, di mana saya mampu menggunakan berbagai teknik pembelajaran sehingga membuat siswa saya tetap termotivasi, tetap berupaya, dan terus fokus dalam pembelajaran. 
  • Kemampuan saya untuk terus mengupayakan siswa tetap berada dalam lingkungan belajar yang berdisiplin, dan kemampuan untuk mengorganisasikan pembelajaran saya sehingga siswa saya dapat mencapai tujuan pembelajaran. 
  • Pengetahuan saya dalam mengassess kemajuan setiap siswa, demikian pula kemajuan seluruh anggota kelas. 
  • Penggunaan beragam metode untuk mengukur perkembangan dan pemahaman siswa, serta menjelaskan kepada orang tua mereka bagaimana kinerja putra-putri mereka. 

Berpikir secara sistematis tentang praktik pembelajaran saya dan selalu belajar dari pengalaman, dengan cara:

  • Meniru model yang sesuai, seperti orang-orang berpendidikan di mana mereka – membaca, bertanya, mencipta, dan selalu bersedia untuk mencoba suatu hal baru. 
  • Mengakrabi berbagai teori-teori belajar dan strategi-strategi mengajar, dan selalu buka mata dan telinga terhadap isu-isu pendidikan terbaru. 
  • Mengkritisi dan menguji praktik pembelajaran yang saya lakukan untuk memperoleh pemahaman dan pengetahuan baru, memperluas repertoir keterampilan saya, dan memadukan penemuan-penemuan terbaru ke dalam praktik mengajar saya. 

Menjadi salah satu anggota komunitas-komunitas belajar (learning communities), di mana saya dapat:

  • Berkolaborasi dengan orang lain untuk meningkatkan pembelajaran siswa saya.

    Terima kasih sudah berkunjung ke blog model-model pembelajaran dan penelitian tindakan kelas ini. Sampai Jumpa lagi.

    Kamis, 03 Mei 2012

    Pengaruh Pemanfaatan Media Permainan Kartu Hitung Terhadap Hasil Belajar Siswa Materi Ajar Operasi Hitung Campuran Mata Pelajaran Matematika Kelas Iii Sdn Babat Jerawat I Surabaya


    Zuhrotul Komariyah dan, Soeparno
    Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan
    Universitas Negeri Surabaya
    Kampus Lidah Wetan

    Sumber Jurnal: 

    Jurnal Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya Volume 10 No. 1 April 2010, halaman 63 - 73.

    Abstrak:

    Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap abstrak dan imajinatif, sehingga dalam proses pembelajarannya guru dituntut untuk kreatif dalam memanfaatkan media pembelajaran. Pada studi pendahuluan ditemukan permasalahan bahwa guru dalam mengajar hanya menggunakan buku teks, sehingga siswa mengalami kejenuhan dalam belajar matematika. Kondisi yang demikian berdampak pada hasil belajar siswa yang menurun, sehingga peneliti mencoba mengatasi permasalahan tersebut dengan memanfaatkan media permainan kartu hitung .Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses pemanfaatan media permainan kartu hitung dan untuk mengetahui adakah pengaruh yang signifikan antara pemanfaatan media permainan kartu hitung dengan peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas III SDN Babat Jerawat I Surabaya.Hasil dari analisis observasi yang telah dilakukan, diketahui bahwa proses pemanfaatan media permainan kartu hitung dengan sumber data guru diperoleh hasil sebesar 84%, jika hasil tersebut dikonsultasikan dengan kriteria maka tergolong baik sekali. Untuk data hasil observasi proses pemanfaatan media permainan kartu hitung dengan sumber data siswa diperoleh hasil sebesar 82, 5 %, jika hasil tersebut dikonsultasikan dengan kriteria maka tergolong baik sekali. Sedangkan uji hasil tes diperoleh t hitung 14, 53 dengan db = 40 – 1 = 39 dan taraf signifikan 5 % maka diperoleh t tabel 2, 021. Dari perhitungan tersebut diketahui bahwa t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 14, 53 > 2, 021. Maka data ini menunjukkan bahwa pemanfaatan media permainan kartu hitung dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika pokok bahasan operasi hitung campuran kelas III SDN Babat Jerawat I Surabaya.

    Kata Kunci: Pemanfaatan media permainan kartu hitung, hasil belajar


    1. Pendahuluan

    Matematika merupakan pelajaran yang sangat sulit, meskipun ada yang menyenangi pelajaran itu. Segala cara dan usaha dilakukan untuk dapat mewujudkan adanya pemahaman belajar yang baik pada mata pelajaran matematika. Banyak usaha yang dilakukan oleh orang tua untuk membantu putra-putrinya agar mampu menguasai operasi berhitung. Misalnya, mengikut sertakan putra-putrinya mengikuti bimbingan belajar di sekolah, mendatangkan guru privat di rumah, dan mengikutkan bimbingan di tempat kursus. Agar siswa dapat menerima dan memahami operasi berhitung dengan baik, maka diperlukan usaha untuk menarik perhatian siswa, salah satunya adalah dengan cara memanipulasi suasana pembelajaran dan media pembelajaran. Dengan menerapkan pembelajaran yang menarik maka siswa akan giat dalam belajar, sehingga kegiatan belajar yang diharapkan akan muncul dan mencapai hasil yang baik pula.....................Baca selengkapnya makalah ini sebagaimana aslinya di sini.

    Terima kasih telah membaca blog model pembelajaran dan ptk ini. Salam.

    Rabu, 02 Mei 2012

    Pada tulisan sebelumnya di blog penelitian tindakan kelas dan model pembelajaran ini saya telah memberi sebuah contoh tentang PTK : Cara Menulis Latar Belakang Masalah. Tulisan kali ini masih membahas masalah yang sama, hanya saja dengan contoh yang berbeda. Maksudnya biar tambah jelas.

    Unsur-Unsur Esensial Latar Belakang Masalah

    Sekali lagi, dalam menulis Latar Belakang Masalah untuk Proposal PTK atau Laporan PTK anda harus memperhatikan komponen/unsur-unsur esensial yang harus terdapat di dalamnya. Unsur-unsur yang dimaksud yaitu :

    1. Kondisi ideal di dalam kelas/pembelajaran yang diharapkan oleh guru/peneliti.
    2. Kondisi saat ini (yang sedang terjadi) di dalam kelas/pembelajaran guru/peneliti.
    3. Kesenjangan (gap) antara kondisi ideal (no.1) dengan kondisi saat ini (no.2) beserta penyebab munculnya kesenjangan (gap), dengan kata lain akar permasalahan yang muncul/sumber masalah.
    4. Urgensi penyelesaian masalah, atau dengan kata lain dampak-dampak negatif jika permasalahan di kelas/pembelajaran guru tersebut tidak diselesaikan.
    5. Alternatif solusi/pemecahan masalah berupa tindakan (action) terbaik yang diperkirakan dapat menyelesaikan masalah.

    Contoh Cara Menulis Latar Belakang Masalah

    Mari kita lihat contoh berikut, yang disajikan dalam bentuk tabel supaya anda mudah membedakan kelima unsur penyusun Latar Belakang Masalah tersebut:


    No.Unsur ParagrafRumusan Paragraf Latar Belakang Masalah
    1.Kondisi ideal di dalam kelas/pembelajaran yang diharapkan oleh guru/peneliti.Penguasaan keterampilan matematis adalah suatu keterampilan prasyarat yang mutlak harus dimiliki oleh siswa saat mempelajari materi IPA Fisika. Keterampilan matematis yang baik akan membawa siswa menjadi pebelajar yang mampu menyelesaikan soal-soal yang mengandung perhitungan matematis. Bila kemampuan dalam penguasaan keterampilan matematis (dalam hal ini) penyelesaian hitungan-hitungan yang melibatkan berbagai macam operasi seperti penjumlahan, perkalian, pembagian dari berbagai jenis bilangan mulai dari bilangan bulat, bilangan desimal, hingga bilangan berpangkat atau pecahan tentu akan sangat membantu guru IPA Fisika dalam membelajarkan konsep-konsep yang akan diberikan.
    2.Kondisi saat ini (yang sedang terjadi) di dalam kelas/pembelajaran guru/peneliti.Kenyataan di kelas VII SMP Negeri Danau Panggang, penguasaan keterampilan perhitungan matematis masih kurang baik, sehingga menyebabkan guru terhambat dalam membelajarkan konsep-konsep IPA Fisika yang harus mereka kuasai. Kenyataan ini tampak pada hasil-hasil analisis ulangan harian yang dilakukan oleh peneliti (guru IPA), di mana kebanyakan soal yang tidak bisa atau tidak sempurna dijawab oleh siswa adalah soal-soal yang melibatkan perhitungan matematis yang rumit / kompleks.
    3.Kesenjangan (gap) antara kondisi ideal (no.1) dengan kondisi saat ini (no.2) beserta penyebab munculnya kesenjangan (gap), dengan kata lain akar permasalahan yang muncul/sumber masalah.Kemungkinan penyebab permasalahan ini adalah kurangnya latihan/tugas yang tersusun dengan urutan yang baik (logis). Suatu tugas / latihan untuk mengajarkan sebuah keterampilan kompleks seperti keterampilan perhitungan matematis seharusnya diurutkan dari yang kurang kompleks menuju yang lebih kompleks, dari keterampilan perhitungan matematis yang sederhana menuju ke keterampilan perhitungan matematis yang lebih kompleks. 
    4.Urgensi penyelesaian masalah, atau dengan kata lain dampak-dampak negatif jika permasalahan di kelas/pembelajaran guru tersebut tidak diselesaikan. Kemampuan dalam penguasaan keterampilan matematis ini memang seharusnya lebih menjadi tanggung jawab guru matematika. Akan tetapi, apabila permasalahan ini terus dibiarkan maka akan sangat berdampak pada proses dan hasil pembelajaran IPA mereka. Proses pembelajaran IPA Fisika akan menjadi terhambat, sehingga hasil yang diharapkan juga tentunya tidak akan dapat dicapai dengan baik. Jadi, menyelesaikan permasalahan ini sudah pula sepantasnya menjadi bagian tugas guru IPA.
    5.Kondisi ideal di dalam kelas/pembelajaran yang diharapkan oleh guru/peneliti.Kauchack dan Eggen (1993), pada saat akan mengajarkan sebuah keteraampilan kompleks, guru sebaiknya melakukan task analysis terlebih dahulu. Task anaylisis adalah kegiatan yang dilakukan saat merencanakan pembelajaran, di mana guru memecah-memecah sebuah keterampilan kompleks menjadi komponen-komponen berupa keterampilan-keterampilan yang lebih sederhana berdasarkan uruta-urutan prasyarat. Perencanaan dengan melakukan task analysis ini adalah merupakan alternatif solusi terbaik yang mungkin dilakukan oleh guru IPA dalam upayanya untuk memecahkan permasalahan tersebut di atas.

    Sehingga Latar Belakang akan jadi seperti ini:

    A. LATAR BELAKANG MASALAH

    Penguasaan keterampilan matematis adalah suatu keterampilan prasyarat yang mutlak harus dimiliki oleh siswa saat mempelajari materi IPA Fisika. Keterampilan matematis yang baik akan membawa siswa menjadi pebelajar yang mampu menyelesaikan soal-soal yang mengandung perhitungan matematis. Bila kemampuan dalam penguasaan keterampilan matematis (dalam hal ini) penyelesaian hitungan-hitungan yang melibatkan berbagai macam operasi seperti penjumlahan, perkalian, pembagian dari berbagai jenis bilangan mulai dari bilangan bulat, bilangan desimal, hingga bilangan berpangkat atau pecahan tentu akan sangat membantu guru IPA Fisika dalam membelajarkan konsep-konsep yang akan diberikan.

    Kenyataan di kelas VII SMP Negeri Danau Panggang, penguasaan keterampilan perhitungan matematis masih kurang baik, sehingga menyebabkan guru terhambat dalam membelajarkan konsep-konsep IPA Fisika yang harus mereka kuasai. Kenyataan ini tampak pada hasil-hasil analisis ulangan harian yang dilakukan oleh peneliti (guru IPA), di mana kebanyakan soal yang tidak bisa atau tidak sempurna dijawab oleh siswa adalah soal-soal yang melibatkan perhitungan matematis yang rumit / kompleks.

    Kemungkinan penyebab permasalahan ini adalah kurangnya latihan/tugas yang tersusun dengan urutan yang baik (logis). Suatu tugas / latihan untuk mengajarkan sebuah keterampilan kompleks seperti keterampilan perhitungan matematis seharusnya diurutkan dari yang kurang kompleks menuju yang lebih kompleks, dari keterampilan perhitungan matematis yang sederhana menuju ke keterampilan perhitungan matematis yang lebih kompleks.

    Kemampuan dalam penguasaan keterampilan matematis ini memang seharusnya lebih menjadi tanggung jawab guru matematika. Akan tetapi, apabila permasalahan ini terus dibiarkan maka akan sangat berdampak pada proses dan hasil pembelajaran IPA mereka. Proses pembelajaran IPA Fisika akan menjadi terhambat, sehingga hasil yang diharapkan juga tentunya tidak akan dapat dicapai dengan baik. Jadi, menyelesaikan permasalahan ini sudah pula sepantasnya menjadi bagian tugas guru IPA.

    Kauchack dan Eggen (1993), pada saat akan mengajarkan sebuah keteraampilan kompleks, guru sebaiknya melakukan task analysis terlebih dahulu. Task anaylisis adalah kegiatan yang dilakukan saat merencanakan pembelajaran, di mana guru memecah-memecah sebuah keterampilan kompleks menjadi komponen-komponen berupa keterampilan-keterampilan yang lebih sederhana berdasarkan uruta-urutan prasyarat. Perencanaan dengan melakukan task analysis ini adalah merupakan alternatif solusi terbaik yang mungkin dilakukan oleh guru IPA dalam upayanya untuk memecahkan permasalahan tersebut di atas.

    Mudah-mudahan dengan kedua contoh (PTK : Cara Menulis Latar Belakang Masalah dan PTK : Cara Menulis Latar Belakang Masalah Bag 2) ini, anda tidak lagi mengalami kesulitan dalam menulis latar belakang masalah untuk proposal atau laporan PTK anda.

    Bagaimana Cara Menulis Latar Belakang Masalah?

    Kesulitan menulis Latar Belakang Masalah pada proposal Penelitian Tindakan Kelas anda? Ha.. Jangan takut. Ada formula mudah untuk menuliskannya dan tentu saja akurat (sesuai aturan/kaidah).Baca langkah-langkahnya di bawah ini.

    Unsur Penting Latar Belakang Masalah

    Latar Belakang Maslah adalah salah satu komponen pada proposal PTK atau pada Bab I Laporan PTK yang harus anda tulis dengan tajam dan tidak mengambang kemana-mana. Latar Belakang Masalah seharusnya mengandung 5 unsur penting, yang minimal tergambar dalam 5 paragraf yang saling menyatu dan berhubungan satu sama lain membentuk pondasi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan oleh guru/peneliti. Kelima (5) unsur penting itu wajib ada, yaitu:
    1. Kondisi ideal di dalam kelas/pembelajaran yang diharapkan oleh guru/peneliti.
    2. Kondisi saat ini (yang sedang terjadi) di dalam kelas/pembelajaran guru/peneliti.
    3. Kesenjangan (gap) antara kondisi ideal (no.1) dengan kondisi saat ini (no.2) beserta penyebab munculnya kesenjangan (gap), dengan kata lain akar permasalahan yang muncul/sumber masalah.
    4. Urgensi penyelesaian masalah, atau dengan kata lain dampak-dampak negatif jika permasalahan di kelas/pembelajaran guru tersebut tidak diselesaikan.
    5. Alternatif solusi/pemecahan masalah berupa tindakan (action) terbaik yang diperkirakan dapat menyelesaikan masalah.
    Mari kita lihat contoh berikut, yang disajikan dalam bentuk tabel supaya anda mudah membedakan kelima unsur penyusun Latar Belakang Masalah tersebut:

    Contoh Cara Mengembangkan Latar Belakang Masalah pada sebuah Proposal PTK atau Laporan PTK (Penelitian Tindakan Kelas)

    No.UnsurContoh Isi Paragraf
    1.Kondisi ideal di dalam kelas/pembelajaran yang diharapkan oleh guru/peneliti.Pada pembelajaran IPA, pemahaman terhadap konsep-konsep esensial sangat penting. Pemahaman terhadap konsep-konsep esensial yang baik akan membuat peserta didik menempatkan konsep-konsep tersebut dalam sistem memori jangka panjang (long term memory) dan dapat menggunakannya untuk berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi (higher level thinking) seperti pemecahan masalah dan berpikir kreatif. Pemahaman konsep-konsep esensial yang baik semestinya akan mempermudah mereka dalam mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah.
    2.Kondisi saat ini (yang sedang terjadi) di dalam kelas/pembelajaran guru/peneliti.Kenyataan saat ini di kelas VIIIB SMP Negeri 4 Amuntai masih jauh dari kondisi ideal tersebut. Pemahaman terhadap konsep-konsep esensial pada mata pelajaran IPA untuk materi bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari masih rendah (rata-rata kelas 63,28). Selain itu jumlah peserta didik yang berhasil mencapai dan melampaui KKM  kurang dari 75%. KKM mata pelajaran IPA pada Tahun Pelajaran 2010/2011 yang lalu adalah ≥ 61. Jumlah peserta didik yang berhasil mencapai dan melampaui KKM yang kurang dari 75% ini menyebabkan guru harus melakukan pembelajaran remedial secara klasikal. Kemudian, KKM mata pelajaran IPA pada Tahun Pelajaran 2011/2012 ini telah ditingkatkan menjadi ≥ 65, hal ini juga berarti bahwa kemungkinan persentase peserta didik yang tidak dapat mencapai KKM yang dinaikkan tersebut semakin besar.
    3.Kesenjangan (gap) antara kondisi ideal (no.1) dengan kondisi saat ini (no.2) beserta penyebab munculnya kesenjangan (gap), dengan kata lain akar permasalahan yang muncul/sumber masalah.Beberapa kemungkinan penyebab rendahnya pemahaman peserta didik tentang materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari sehingga berakibat pada rendahnya nilai rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal yang tidak tercapai adalah: (1) materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari merupakan materi yang sangat banyak mengandung konsep-konsep bidang kimia dengan istilah-istilah yang sulit diingat dan dipahami; (2) strategi pembelajaran yang digunakan masih belum cukup untuk memfasilitasi pemerolehan pehamaman bagi peserta didik.
    4.Urgensi penyelesaian masalah, atau dengan kata lain dampak-dampak negatif jika permasalahan di kelas/pembelajaran guru tersebut tidak diselesaikan.Kondisi demikian apabila terus dibiarkan akan berdampak buruk terhadap kualitas pembelajaran mata pelajaran IPA di Kelas VIIIB tersebut khususnya, dan di SMPN 4 Amuntai secara keseluruhan. Padahal, materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari merupakan salah satu materi esensial dalam kurikulum. Hal ini tercermin dari selalu termuatnya materi ini dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk Ujian Nasional (UN) pada 3 tahun terakhir ini. 
    5.Alternatif solusi/pemecahan masalah terbaik yang diperkirakan dapat menyelesaikan masalah.Salah satu alternatif pemecahan masalah di atas yang mungkin untuk dilaksanakan oleh guru adalah melaksanakan pembelajaran IPA dengan menggunakan strategi memory cycle. Menurut Sprenger (2005), pembelajaran yang dilakukan dengan stretegi memory cycle yang terdiri dari 7 langkah (reach, reflect, recode, reinforce, rehearse, review, dan retrieve) memungkinkan peserta didik untuk dapat menyimpan konsep-konsep esensial yang diberikan dalam memori jangka panjang (long term memory) dan memungkinkan mereka untuk menggunakan konsep-konsep saat berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi (higher level thinking).

    Sehingga pada bagian Latar Belakang Masalah di Proposal PTK atau Laporan PTK hasilnya akan seperti ini:

    ===========

    A. LATAR BELAKANG MASALAH

    Pada pembelajaran IPA, pemahaman terhadap konsep-konsep esensial sangat penting. Pemahaman terhadap konsep-konsep esensial yang baik akan membuat peserta didik menempatkan konsep-konsep tersebut dalam sistem memori jangka panjang (long term memory) dan dapat menggunakannya untuk berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi (higher level thinking) seperti pemecahan masalah dan berpikir kreatif. Pemahaman konsep-konsep esensial yang baik semestinya akan mempermudah mereka dalam mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah.

    Kenyataan saat ini di kelas VIIIB SMP Negeri 4 Amuntai masih jauh dari kondisi ideal tersebut. Pemahaman terhadap konsep-konsep esensial pada mata pelajaran IPA untuk materi bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari masih rendah (rata-rata kelas 63,28). Selain itu jumlah peserta didik yang berhasil mencapai dan melampaui KKM  kurang dari 75%. KKM mata pelajaran IPA pada Tahun Pelajaran 2010/2011 yang lalu adalah ≥ 61. Jumlah peserta didik yang berhasil mencapai dan melampaui KKM yang kurang dari 75% ini menyebabkan guru harus melakukan pembelajaran remedial secara klasikal. Kemudian, KKM mata pelajaran IPA pada Tahun Pelajaran 2011/2012 ini telah ditingkatkan menjadi ≥ 65, hal ini juga berarti bahwa kemungkinan persentase peserta didik yang tidak dapat mencapai KKM yang dinaikkan tersebut semakin besar.

    Beberapa kemungkinan penyebab rendahnya pemahaman peserta didik tentang materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari sehingga berakibat pada rendahnya nilai rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal yang tidak tercapai adalah: (1) materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari merupakan materi yang sangat banyak mengandung konsep-konsep bidang kimia dengan istilah-istilah yang sulit diingat dan dipahami; (2) strategi pembelajaran yang digunakan masih belum cukup untuk memfasilitasi pemerolehan pehamaman bagi peserta didik.

    Kondisi demikian apabila terus dibiarkan akan berdampak buruk terhadap kualitas pembelajaran mata pelajaran IPA di Kelas VIIIB tersebut khususnya, dan di SMPN 4 Amuntai secara keseluruhan. Padahal, materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari merupakan salah satu materi esensial dalam kurikulum. Hal ini tercermin dari selalu termuatnya materi ini dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk Ujian Nasional (UN) pada 3 tahun terakhir ini. 

    Salah satu alternatif pemecahan masalah di atas yang mungkin untuk dilaksanakan oleh guru adalah melaksanakan pembelajaran IPA dengan menggunakan strategi memory cycle. Menurut Sprenger (2005), pembelajaran yang dilakukan dengan stretegi memory cycle yang terdiri dari 7 langkah (reach, reflect, recode, reinforce, rehearse, review, dan retrieve) memungkinkan peserta didik untuk dapat menyimpan konsep-konsep esensial yang diberikan dalam memori jangka panjang (long term memory) dan memungkinkan mereka untuk menggunakan konsep-konsep saat berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi (higher level thinking).

    ===============
    Gampang sekali bukan? Saya yakin anda dapat menulis Latar Belakang Masalah untuk Proposal atau Laporan PTK anda dengan gaya dan isi yang jauh lebih baik dari contoh di atas. Bila ingin contoh lain anda dapat membaca Cara Menulis Latar Belakang Masalah Bagian 2. Selamat melaksanakan penelitian tindakan kelas.

    Siklus Belajar, Apakah itu?

    Jumpa lagi di blog ptk dan model pembelajaran. Kini kita akan membahasa model pembelajaran siklus belajar atau dalam istilah Inggrisnya Learning Cycle. Siklus belajar ( learning cycle ) merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada teori Piaget dan teori pembelajaran kognitif serta aplikasi model pembelajaran konstruktivis. Model ini dikembangkan oleh Robert Karplus dan koleganya dalam rangka memperbaiki kurikulum sains SCIS  ( Science Curriculum Improvement Study) dengan tahapan-tahapannya : exploration, invention dan discovery, namun kemudian dikembangkan oleh Charles R. Barman dengan tahapan-tahapannya : exploration phase, concept introduction, dan concept application. Selanjutnya model ini kemudian dikembangkan lagi dan dewasa ini lebih dikenal dengan model siklus belajar sains 4-E ( 4-E science learning cycle ), dengan tahapan-tahapan : exploration phase, explanation phase, expansion phase, evaluation phase (Carin 1993:87)

    Menurut Lawson (1989) dalam Bybee (1996:205) siklus belajar  sains  adalah satu cara berpikir dan bertindak yang cocok untuk siswa belajar. Penggunaan siklus belajar (learning cycle)  memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengungkapkan pengetahuan sebelumnya dan kesempatan untuk menyanggah, mendebat gagasan-gagasan mereka, proses ini menghasilkan ketidakseimbangan kognitif, sehingga  mengembangkan tingkat penalaran yang lebih tinggi, dan merupakan suatu pendekatan yang baik untuk pembelajaran sains.

    Menurut  Renner dan Marek  dalam Martin (1994:202-203)  bahwa dari riset yang mereka lakukan tentang penggunaan  model siklus belajar (learning cycle)  pada pembelajaran ternyata hasilnya dapat meningkatkan prestasi  anak-anak dan meningkatkan pengembangan keterampilan prosesnya. Mereka juga mengakui bahwa siklus belajar (learning cycle) dapat meningkatkan intelektual anak. Bagaimanapun juga mereka menyimpulkan  bahwa model siklus belajar (learning cycle) adalah suatu cara untuk membantu anak-anak menerapkan matematika, keterampilan ilmu kemasyarakatan, menginterpretasikan grafik, tabel, dan poster serta asimilasi data untuk memecahkan masalah, dan menentukan maksud atau arti kalimat.  Para peneliti mengungkapkan bahwa siklus belajar (learning cycle) adalah suatu cara alami untuk belajar dan memenuhi tujuan pendidikan uang utama : membantu anak-anak belajar bagaimana cara berpikir.

    Fase atau Langkah-Langkah Siklus Belajar

    Fase-fase siklus belajar sains  (the science learning cycle)  dengan penjelasan fase-fasenya  sebagai berikut :

    Fase  I. Exploration (penyelidikan)

    Pada fase ini para siswa belajar melalui keterlibatan dan tindakan-tindakan, gagasan-gagasan mereka dan hubungan-hubungan dengan materi baru diperkenalkan dengan bimbingan guru yang minimal agar memungkinkan siswa menerapkan pengetahuan sebelumnya, mengembangkan minat, menumbuhkan dan memelihara rasa ingin tahu terhadap materi itu. Materi perlu disusun secara cermat sehingga sasaran belajar itu menggunakan konsep dan gagasan yang mendasar. Selama fase ini guru menilai pemahaman para siswa terhadap sasaran pelajaran. Menurut Bybee bahwa, tugas guru disini tidak boleh memberitahukan atau menerangkan konsep.

    Fase  II. Explanation (Pengenalan)

    Pada fase ini para siswa kurang terpusat dan ditunjukkan untuk mengembangkan mental. Tujuan dari fase ini guru membantu para siswa memperkenalkan konsep sederhana, jelas dan langsung yang berkaitan dengan fase sebelumnya, dengan berbagai strategi para siswa disini harus terfokus pada pokok penemuan konsep-konsep yang mendasar secara kooeperatif dibawah bimbingan guru (guru sebagai fasilitator) mengajukan konsep-konsep itu secara sederhana, jelas dan langsung.

    Fase  III.Expansion (Perluasan)

    Pada fase ini para siswa  mengembangkan konsep-konsep yang baru dipelajari untuk diterapkan pada contoh-contoh lain, dipakai sebagai ilustrasi konsep intinya dapat membantu para siswa mengembangkan  gagasan-gagasan mereka dalam kehidupannya.

    Fase  IV. Evaluation (Evaluasi)

    Pada fase ini ingin mengetahui penjelasan para siswa terhadap siklus pembelajaran ini. Evaluasi dapat berlangsung setiap fase pembelajaran, untuk menggiring pemahaman konsep juga perkembangan keterampilan proses. Evaluasi bukan hanya pada akhir bab. Dari fase-fase yang disebutkan di atas menurut  Carin dan Martin tujuan paedagoginya adalah sama. Untuk jelasnya seperti pada gambar.
    langkah-langkah siklus belajar (learning cycle)
    Fase-Fase Siklus Belajar (Learning Cycle 4E)

    Referensi:

    Carin, A.A . 1993. Teaching Science Through Discovery . Seventh Edition .New York : Mcmillan   Publishing Company.

    Martin, Ralph.E. 1994. Teaching Science For All Children. Boston :Allyn and Bacon.

    Bybee, W.R , Trowbridge L.W. 1996. Teaching Secondary School Science : Strategies for Develoving Scientific Literacy . New Jersey :Merrill Publishing.

    Cara Membuat Lembar Observasi PTK

    Banyak guru terhambat saat ingin melakukan penelitian tindakan kelas karena ketiadaan instrumen penggali data yang sesuai dengan fokus atau tujuan penelitian tindakan kelas yang akan mereka lakukan. Mereka sudah berusaha mencari-cari lembar observasi atau instrumen untuk pengamatan tersebut di mana-mana (di literatur maupun internet). Ada cara-cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan lembar observasi yang sesuai dan valid dengan ptk yang mereka lakukan.

    Sebenarnya, guru tidak perlu terhambat karena masalah seperti ini. Seharusnya, seorang guru yang ingin meneliti (melakukan PTK) dapat membuat sendiri lembar observasi (instrumen pengamatan) untuk penggali data tersebut melalui kajian pustaka atau kajian teori yang telah mereka lakukan.  Di bawah ini, saya akan mencontohkan bagaimana membuat sebuat instrumen untuk mengamati kemampuan guru mengelola pembelajaran yang mengacu pada model pengajaran langsung (direct instruction). 

    Langkah-Langkah Membuat Instrumen Lembar Observasi

    Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan untuk dapat membuat sebuah instrumen Lembar Observasi adalah sebagai berikut:
    1. Cari informasi sebanyak-banyaknya dari kepustakaan tentang aspek yang ingin diobservasi (bisa dilihat/diambil dari Kajian Teori/Kajian Pustaka pada proposal penelitian.
    2. Pilah-pilih informasi ensensial/penting, berdasarkan data yang harus dikumpulkan dalam penelitian melalui observasi.
    3. Buat lembar observasi dengan mengacu pada informasi penting tadi, sehingga data yang akan direkam oleh lembar observasi yang dikembangkan tersebut sesuai dengan data yang dibutuhkan, dan relevan dengan tujuan penelitian.
    Nah, taruh kata saya memperoleh dari buku yang saya baca tentang model pembelajaran langsung (direct instruction) ternyata mempunyai sintaks (langkah-langkah) pembelajaran yang harus dilakukan guru seperti berikut ini:

    Sintaks Model Pembelajaran Langsung

    No.TahapPeran Guru
    1.Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswaGuru menjelaskan tujuan pembelajaran, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar
    2.Mendemonstrasikan keterampilann (pengetahuan procedural) atau mempresentasikan pengetahuan (deklaratif)Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap
    3.Membimbing pelatihanGuru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan
    4.Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balikGuru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik
    5.Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapanGuru mempersiapkan kesempatan untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari

    Maka saya dapat membuat sebuah instrumen penggali data tentang kemampuan guru mengelola langkah-langkah model pembelajaran langsung (Direct Instruction) dengan cara memasukkan poin-poin penting pada Peran Guru dan Tahap padatabel di atas sebagai poin-poin pengamatan (observasi) pada Lembar Observasi yang dibuat. Perhatikan Lembar Observasi Kemampuan Guru Mengelola Langkah-Langkah Pembelajaran yang Mengacu Pada Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) berikut:

    Contoh Lembar Observasi yang Dibuat: 


    LEMBAR OBSERVASI
    KEMAMPUAN GURU MENGELOLA SINTAKS PEMBELAJARAN YANG MENGACU PADA MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG (DIRECT INSTRUCTION)

    Nama Guru     : .......................          
    Hari/Tgl          : .......................
    Mata Pelajaran : ....................              
    Jam ke            : .......................
    Siklus ke-       : ........................      
    Pertemuan ke : .......................
    Kelas              : ........................
    Materi            : ........................

    Petunjuk: Pengamat memberi tanda cek (v) pada kolom yang sesuai, Dibagian bawah tabel (ceklis)  isikan pula secara jelas hal-hal penting/menarik pada saat guru mengelola pembelajaran.

    click untuk memperbesar tabel
    Silakan di klik untuk memperbesar gambar tabel

    Deskriptor:
    Skor 1     : tidak dilakukan oleh guru
    Skor 2    : dilakukan oleh guru tetapi masih kurang baik
    Skor 3    : dilakukan oleh guru dengan cukup baik
    Skor 4    : dilakukan oleh guru dengan baik
    Skor 5    : dilakukan oleh guru dengan sangat baik

    Hal-hal menarik/penting lain saat guru mengelola langkah-langkah pembelajaran yang mengaplikasikan model pembelajaran langsung (direct instruction):
    1.    Tahap 1: Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
    Catatan : ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
    2.    Tahap 2 : Mendemonstrasi-kan keterampilan (pengetahuan procedural) atau mempresentasikan pengetahuan (deklaratif)
    Catatan : ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
    3.    Tahap 3 : Membimbing pelatihan
    Catatan : ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

    4.    Tahap 4: Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
    Catatan : ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

    5.    Tahap 5 : Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan
    Catatan : ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

                            Paringin, .............................................................
                            Observer



                            (...........................................)
                            NIP......................................

    Nah, bandingkan Tabel pada Lembar Observasi dengan Tabel Sintaks sebelumnya. Sudah? Saya yakin anda pasti bisa membuat instrumen pengamatan semacam itu. Sebagai catatan, Lembar Observasi Kemampuan Guru Mengelola Langkah-Langkah Pembelajaran yang Mengacu Pada Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) di atas hanya contoh. Anda dapat menggunakannya, tetapi lebih baik lagi bila anda dapat mengembangkan versi lain secara mandiri. Selamat mencoba. (Cara membuat lembar observasi ini juga telah disajikan pada saat penulis memberikan materi tentang PTK di MGMP Biologi tingkat SMA/MA dan MGMP Geografi tingkat SMA/MA di Kab. Balangan pada tgl 1 Mei 2012 lalu).
    Baca juga :
    Cara Menyusun Lembar Observasi PTK untuk Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing
    Contoh Lembar Observasi Frekuensi, Penyebaran, dan Kualitas Pertanyaan Siswa dalam Pembelajaran
    Contoh Lembar Observasi Keterampilan Bertanya Guru
    Contoh Lembar Observasi Pengelolaan Pembelajaran Model PBI (Pembelajaran Berdasarkan Masalah)
    Contoh Lembar Observasi Keterampilan Kooperatif Siswa
    Contoh Lembar Pengamatan Pengelolaan Pembelajaran Kooperatif

    Selasa, 01 Mei 2012

    Pengembangan Media Komputer Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Bahasa Daerah Pokok Bahasan Aksara Jawa Kelas Vii Di Smp Negeri 2 Sidoarjo

    Oleh:
    Dewi Lili Amiyati dan Andi Mariono
    Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan
    Universitas Negeri Surabaya
    Kampus Lidah wetan

    Sumber Jurnal: 

    Jurnal Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya Volume 10 No. 1 April 2010, halaman 100-111.

    Abstrak: 

    Media Komputer Pembelajaran adalah media yang menggunakan teknologi berbasis komputer merupakan cara menyampaikan materi dengan sumber-sumber yang berbasis microprosesor. Penggunaan media ini dalam proses pembelajaran dapat memotivasi siswa dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan. Pada mata pelajaran Bahasa Daerah dengan pokok bahasan Aksara Jawa, Siswa dituntut untuk mampu menguasai materi yakni dengan kompetensi dasar berupa membaca serta menulis akasara Jawa dengan baik dan benar. Dengan banyaknya konsep yang harus diserap serta proses pembelajaran yang digunakan masih bersifat klasikal sehingga menyebabkan siswa bosan dengan pembelajaran dikelas serta guru harus seringkali mengulangi materi pembelajaran. Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan dari Arif S. Sadiman. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif dengan data berupa kuantitatif dan kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan angket dengan mengambil subjek penelitian ini adalah dua orang ahli materi, dua orang ahli media, dan subjek uji coba tiga puluh tujuh siswa sebagai pengguna. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil analisis data yang diperoleh dari tahapan uji coba pada media komputer pembelajaran (CAI) yang dikembangkan, menunjukkan bahwa secara umum media CAI tersebut dinilai Sangat baik dengan rincian rerata sebesar 88,2 % pada uji coba Ahli Materi, 87,6% Uji coba Ahli Media, 86% uji coba perorangan, 88,3% dan 87,5% Uji coba kelompok besar.

    Kata kunci : Pengembangan, Media Komputer Pembelajaran, Mata pelajaran bahasa daerah
    pokok bahsan aksara Jawa.


    1. Pendahuluan

    Dewasa ini perkembangan Teknologi dan Informasi berjalan begitu pesat khususnya perkembangan teknologi di bidang pendidikan yang telah banyak memberikan sumbangan dalam pembelajaran yang bertujuan untuk memudahkan proses belajar mengajar dan memecahkan masalah belajar. Salah satu kemudahan yang didapat yakni adanya penggunaan dan pemanfaatan media dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran sebenarnya merupakan alat bantu yang dapat digunakan oleh guru dalam membantu tugas kependidikannya. Media pembelajaran juga dapat memudahkan pemahaman siswa terhadap kompetensi yang harus dikuasai, materi yang harus dipelajari dan dapat mempertinggi hasil belajar (Mulyanta&Marlon, 2009 : 2). Berbagai macam media pembelajaran telah diciptakan, dari media yang sederhana misalnya buku, modul, sampai media yang semakin canggih yang disebut dengan media komputer pembelajaran (computer assisted instruction – CAI).

    Media komputer pembelajaran yaitu media yang menggunakan teknologi berbasis komputer merupakan cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan sumber – sumber yang berbasis microprosesor. Menurut Arsyad (2007 : 32) pada dasarnya program media pembelajaran berbasis komputer ini menggunakan layar kaca untuk menyajikan informasi kepada siswa. Penggunaan media komputer pembelajaran dirancang untuk dapat memotivasi siswa dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilannya karena media ini memiliki karakteristik menarik, interaktif, inovatif dan variatif, (Warsita, 2008: 137). Dengan adanya penggunaan media komputer pembelajaran.........................Baca Makalah ini selengkapnya sebagaimana sumber aslinya.
    Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!