Kamis, 23 Februari 2012

Catatan: Makalah ini dipublikasikan di blog ini dengan tujuan untuk meningkatkan kemudahan para pendidik untuk memperolehnya dengan lebih banyak terindeks pada search engine. Makalah ini sepenuhnya bukan milik saya. Bila Anda pemilik makalah ini dan merasa bahwa tidak semestinya makalah ini diterbitkan di http://gudangptk77.blogspot.com, silakan menghubungi saya di sini, maka dengan senang hati saya akan menghapus konten ini. Terimakasih (admin).

PENINGKATAN KOMPETENSI MENULIS PENGALAMAN SISWA KELAS VII A SMP NEGERI 2 GATAK KABUPATEN SUKOHARJO MELALUI POLA LATIHAN BERJENJANG

Oleh: 
Main Sufanti
Jurusan PBSID FKIP
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Jl. A. Yani Pabelan Tromol Pos I Surakarta 57102 Telp. 0271-717417

Isminatun
SMP Negeri 2 Gatak Sukoharjo
Trangsan, Gatak, Sukoharjo, Jawa Tengah, Telp (0271) 788816

Triyatno
MTs PPMI Assalam Surakarta

Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Telp (0271) 715468

Abstract: The main problem which encourages the researcher to conduct the action research is thelow competence in writing personal experience of the seventh year students of SMPN 2 Gatak Kabupaten Sukoharjo. To overcome the problem, the researcher applied Stage Exercise Patterns – a teaching writing technique which covers three crucial stages, namely: the stage of teaching constructing sentences, the stage of teaching developing paragraph, and the stage of teaching writing discourse. The action applied in two cycles shows that the Stage Exercise Pattern can increase the students’ competence in writing personal experience and the teacher’s capability in teaching writing. The students’ improving writing can be seen from the increased capability in: (1) determining experiential topics; (2) spelling and punctuation; (3) diction; (4) sentence structure; (5) paragraph organization; (6) paragraph unity; (7) coherence among sentence I a paragraphs; and (8) coherence among the paragraphs. The indicators showing the improvement are: (1) variations in experiential topics written by the students, (2) laser mistakes made by the students in writing based on the criteria determined by the teacher from stage to stage and from cycle to cycle; (3) the average score of cycle 1 is 65,25 while the average score of cycle 2 is 73,63. Consequently, the average score is increased, that is 8,08. While the increase of the teacher’s capability in teaching can be seen from the improvement in: (1) integrating the teaching writing with other aspects, (2) applying various teaching strategies, (3) creating and making use of the teaching media.

Keywords: writing competence, experience, stage exercise pattern, and average score.

Pendahuluan

Berdasarkan hasil latihan menulis siswa, wawancara terhadap guru, dan angket yang diisi oleh siswa, kompetensi menulis pengalaman siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Gatak kabupaten Sukoharjo masih rendah. Siswa masih kesulitan menuliskan pengalaman pribadi dalam bentuk kalimat/karangan yang baik dan benar. Hasil tulisan siswa menunjukkan bahwa mereka belum mampu menerapkan ejaan, tanda baca, diksi, struktur kalimat, dan kepaduan antarkalimat dalam sebuah karangan secara baik.

Rumusan masalah dalam penelitian ini “Apakah pola latihan berjenjang dapat mening-katkan kompetensi menulis siswa Kelas VII A SMP Negeri 2 Gatak?” Aspek yang ingin diting-katkan adalah “kompetensi menulis pengalaman siswa”. Peningkatkan kompetensi menulis siswa tersebut dilakukan dengan pola latihan berjenjang. Hal ini sesuai dengan prinsip pembelajaran menulis yang dikemukakan oleh Parera (1996:26) bahwa pembelajaran menulis itu berlangsung secara berjenjang. Pola latihan berjenjang adalah strategi pembelajaran menulis yang membelajarkan siswa untuk menulis secara bertahap dan bertingkat. Pembelajaran dimulai dengan latihan menulis kalimat, dilanjutkan dengan menyusun paragraf, kemudian menyusun berbagai bentuk karangan.

Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Rokhimin dkk (Depdiknas, 2003) yang berjudul “Meningkatkan Kompetensi Siswa Kelas II C SLTP N 2 Negara Batin Melalui Pola Latihan Berjenjang”. Penelitian tersebut bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan kinerja guru dan peningkatan kompetensi menulis siswa melalui pembelajaran pola latihan berjenjang yaitu ber-latih menyusun kalimat secara individu, berlatih menyusun paragraf secara berkelompok, dan berlatih menyusun karangan secara kelompok. Ada dua siklus tindakan terbukti bahwa aktivitas siswa dapat ditingkatkan sebesar 5,57%, kinerja guru dapat ditingkatkan 8,00%, kompetensi menulis siswa dapat ditingkatkan ketuntasan belajarnya 1,25%.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Rokhimin dkk. adalah: (1) lokasi penelitian, (2) karakteristik siswa, (3) teknik pelaksanaan pene-litian dan teknik analisis data. Lokasi penelitian ini di SMP N 2 Gatak Sukoharjo. Subjek peneli-tiannya adalah siswa kelas VII A, penelitian di-lakukan dengan kolaborasi antara guru dan dosen.

Penelitian tindakan kelas ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan kompetensi menu-lis siswa yang dinilai oleh guru selama ini rendah. Adapun secara rinci, tujuan penelitian ini adalah: (1) membantu guru dalam merancang dan melak-sanakan strategi pembelajaran menulis yang krea-tif, bervariasi, dan bermakna; (2) meningkatkan kemampuan guru dalam menciptakan inovasi da-lam pembelajaran menulis pada khususnya, dan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada umumnya; (3) membantu siswa untuk meningkat-kan kompetensi menulis pengalaman; (4) memban-tu siswa untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam menuliskan pengalamannya

Manfaat penelitian: (1) bagi guru me-ningkatkan pemahaman dan pengalaman guru dalam menangani masalah-masalah yang ber-kaitan dengan pembelajaran menulis, (2) bagi dosen meningkatkan kolaborasi dengan guru, (3) bagi sekolah membantu peningkatan SDM guru,(4) bagi siswa membantu mengatasi masalah yang dialami berkaitan dengan keterampilan menulis, dan (5) bagi program studi mewujudkan program pengabdian pada masyarakat dalam bentuk pem-berdayaan sekolah.

Metode
Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri 3 tahap yaitu tahap pembelajaran menulis kalimat, dilanjutkan dengan tahap pembelajaran menulis paragraf, dan tahap pembelajaran menulis wacana.................baca makalah ini dari sumber aslinya.

Selasa, 21 Februari 2012

Teori konstruktivis yang menekankan bahwa siswa siswa harus membangun sendiri pengetahuannya menggunakan pendekatan top-down dalam pembelajaran. Istilah top-down mengacu pada, siswa memulai pembelajaran dengan menghadapi masalah-masalah rumit dan nyata dalam kehidupan sehari-hari, sebelum mereka diberikan tugas untuk mengembangkan kemampuan dasar mereka terkait mata pelajaran yang sedang dipelajari.

Sebuah contoh, pada pembelajaran dengan pendekatan top-down, siswa mungkin terlebih dahulu belajar untuk menemukan berapa uang yang diperlukan untuk membeli 2 buah pensil yang harganya Rp. 2.500,-. Mereka diberi persoalan yang terkait kehidupan sehari-hari yang sebenarnya lebih komplek dan rumit bila dibanding konsep dasar perkalian pada mata pelajaran matematika. Nah, setelah siswa dapat menemukan uang yang dibutuhkan untuk membeli dua pensil yang harganya Rp. 2.500,- adalah sebesar Rp. 5.000,- barulah mereka diajak untuk menemukan konsep perkalian dengan bilangan yang lebih sederhana, misalnya 2 x 15, dll. Pada pendekatan top-down yang berkaitan dengan implikasi teori konstruktivis ini, sering pula persoalan komplek dimunculkan oleh siswa sendiri, bukannya dari guru, ketika mereka menemukan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh lain misalnya, pada pembelajaran Bahasa Indonesia, siswa dapat diberi tugas mengarang. Kita ketahui tugas mengarang adalah sebuah tugas yang amat komplek dan rumit. Nah, setelah mereka berhasil membuat sebuah karangan, barulah guru mengajarkan akan tentang ejaan, tanda baca, atau tata bahasa. Jadi permasalahan pembelajaran dimunculkan dari tugas otentik, bukan dibuat-buat oleh guru Bahasa Indonesia. Guru tidak langsung mengajarkan ejaan dengan langsung membahas ejaan lalu menerapkannya dalam tugas mengarang, tetapi urutan langkahnya adalah sebaliknya.

Pada pembelajaran tradisional, pembelajaran justru lebih sering dilakukan secara bottom-up, artinya siswa diberikan tugas sederhana, lalu dilanjutkan secara bertahap kepada tugas-tugas yang lebih sulit dan komplek. Kelebihan pendekatan top-down adalah, pada pembelajaran itu, siswa diajak berpikir bagaimana cara memecahkan suatu masalah atau tugas dengan lebih aktif.
Catatan: Makalah ini dipublikasikan di blog ini dengan tujuan untuk meningkatkan kemudahan para pendidik untuk memperolehnya dengan lebih banyak terindeks pada search engine. Makalah ini sepenuhnya bukan milik saya. Bila Anda pemilik makalah ini dan merasa bahwa tidak semestinya makalah ini diterbitkan di http://gudangptk77.blogspot.com, silakan menghubungi saya di sini, maka dengan senang hati saya akan menghapus konten ini. Terimakasih (admin).

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KIMIA MELALUI PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE TEAM ACCELERATED INSTRUCTION (TAI) UNTUK MENGATASI HETEROGENITAS KEMAMPUAN SISWA DI KELAS X SMAN 2 BANJARMASIN

Atiek Winarti
 Program Studi Pendidikan Kimia
FKIP Universitas Lambung Mangkurat
Jl. Brigjen H. Hasan Basry Banjarmasin 70123
 Telp./Fax. (0511) 63240

Abstract:
One of the biggest problem that teachers face in teaching is having different level of students ability in their class. The better students tend to grasp the lesson more quickly then the weaker ones. Consequently, if teachers apply a conventional teaching method in classroom, they will find difficulties in completing the materials within the planned time allotment. This matter becomes a main concern especially in SMAN 2 Banjarmasin since a heterogeneous level of student in a class gives impact on accomplishing the target materials. The research attemps to solve the problem trough a cooperative model called Team Accelerated Instruction (TAI) which combines between various individual competence and group work competence of students. It helps students who have good academic performance and are interested in chemistry to finish their materials quickly. The aims of research areto improve students comprehension in chemistry particularly in class X of SMAN 2 Banjarmasin. to develop teaching-learning process for chemistry subject in SMAN 2 Banjarmasin (3) to answer the problem dealing with heterogeneous level of students ability (40 to improve the level of completing chemistry materials (5) to encourage students interest in studying chemistry (6) to broaden teachers knowledge in teaching-learning method. This research is a classroom action research held in SMAN 2 Banjarmasin. The subjects of the research were 34 students of class X.3 in SMAN 2 Banjarmasin. The action were conducted in three cycles within thirteen times of classroom learning. The first and the second cycle consisted of four times of classroom learning, while the third cycle covered five times. The analysis of each cycle was taken based on the students achievement indicated by 75% minimum of students are able to accomplish one unit of the lesson or go forward to the next two (2) levels within four classroom learning. The finding of the research shows that (1) using TAI model in teaching learning process is helpful in handling the problem dealing with heterogeneous level of students ability and interest in studying. During the process students with high competence could finish the materials more quickly than others. (2) The three cycle action of TAI model has increased students achievement in studying effectively. (3) teaching-learning process using TAI model has successfully encourage students motivation in studying chemistry as well as cooperative learning in groups

Keywords: cooperative model, team accelerated instruction model, and heterogenity.

 Pendahuluan
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di SMA, pembagian jurusan dilaksa-nakan setelah siswa duduk di kelas II. Ini berarti pada tahun pertama di SMA seluruh siswa dengan minat dan kemampuan yang sangat heterogen akan duduk bersama-sama dalam satu kelas, mengikuti mata pelajaran yang sama dengan suasana kelas dan perlakuan yang sama pula.Keadaan seperti ini ternyata dapat menimbulkan berbagai permasalahan dalam kegiatan pembelajaran di kelas X.

Dari hasil perbincangan dengan guru kimia di kelas X SMA Negeri 2 Banjarmasin, per-masalahan yang dialami siswa pada pembelajaran kimia di kelas X adalah rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep-konsep kimia. Di sekolah ini jumlah seluruh siswa kelas X begitu besar, yaitu 8 kelas di mana masing-masing kelas berisi 35 sampai dengan 40 orang siswa. Dari sejumlah siswa kelas X tersebut yang dapat menyelesaikan konsep dengan tuntas tanpa mengikuti remedial hanya sekitar 10 sampai 15 orang siswa perkelas, atau hanya sekitar 25-35%. Selebihnya harus mengikuti pengajaran remedial terlebih dahulu sebelum dinyatakan tuntas.

Dari hasil diskusi antar anggota peneliti disimpulkan bahwa penyebab utama dari keadaan ini adalah sangat heterogennya kemampuan akamedik dan minat siswa di kelas X. Dengan kondisi seperti ini maka pada awal-awal tahun pelajaran guru merasa kesulitan untuk mendeteksi siswa mana yang berminat dan siswa mana yang tidak berminat dengan pelajaran ini. Selain itu guru juga mengalami kesulitan dalam membe-rikan materi pelajaran. Di satu pihak guru ingin menanamkan konsep kimia secara mendalam kepada seluruh siswa, tetapi di pihak lain sebagian besar siswa ada yang merasa tak acuh terhadap pelajaran. Akibatnya guru terpaksa hanya mem-berikan materi kimia pada kulit-kulitnya saja. Hal ini tentu saja terasa tidak adil bagi siswa yang memang berminat terhadap kimia. Selain itu kece-patan siswa dalam menerima pelajaran sangat bervariasi, ada siswa yang mudah sekali mema-hami konsep, sementara banyak siswa yang lambat dalam memahami sebuah konsep.

Keadaan yang dikeluhkan guru ini mendo-rong tim peneliti untuk mencari solusi perma-salahannya. Sebab jika keadaan ini dibiarkan terus menerus, yang terjadi beberapa tahun terakhir di sekolah ini adalah nilai siswa kelas Xuntuk mata pelajaran kimia relatif rendah.Berdasarkan hasil diskusi antar anggota tim peneliti dicoba solusi melalui implementasi model pembelajaran.

Solusi yang ingin diterapkan tim peneliti adalah dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model TAI (Team Accelerated Instruction), yaitu model pembelajaran kooperatif yang memadukan antara kemampuan individu yang heterogen dengan kemampuan siswa secara berkelompok. Dengan menggunakan model ini siswa yang memiliki kemampuan akademik baik dan minat terhadap kimia dapat menyelesaikan materi pelajaran lebih cepat daripada siswa lain. Kepada mereka diberikan materi yang lebih tinggi, sementara siswa yang lain belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing. Namun selain unsur individual siswa juga belajar secara kooperatif, karena predikat kelompok sangat ter-gantung dari kemampuan individual siswa. Dengan demikian diharapkan siswa yang memang berminat dan memiliki kemampuan yang tinggi terhadap kimia dapat terlayani dengan baik, se-mentara siswa yang tidak berminat dengan kimia tetap dapat belajar dengan baik melalui bantuan teman yang lain dengan sistem kooperatif.

Berdasarkan latar belakang, permasalahan dalam penelitian tindakan ini, yaitu: “Seberapa besar model pembelajaran TAI dapat mengatasi permasalahan dalam pembelajaran kimia yang terjadi akibat heterogenitas kemampuan aka-demik siswa di kelas X SMA Negeri 2 Banjarmasin”. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah: (1) meningkatkan penguasaan siswa kelas X SMA Negeri 2 Banjarmasin terhadap konsep-konsep kimia, (2) mengatasi permasalahan pembelajaran kimia yang terjadi di kelas X SMA Negeri 2 Banjarmasin akibat tingginya heterogenitas siswa, (3) menumbuhkan minat siswa dalam belajar ilmu kimia, dan (4) meningkatkan wawasan guru dalam mengenal model-model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran

Adapun manfaat yang dapat diperoleh adalah: (1) memperkaya wawasan guru tentang berbagai model pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar, dan (2) memperkenalkan kepada siswa variasi model pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran kimia. Sebagai salah satu komponen pengajaran, model atau metode pembelajaran menempati peranan yang tidak kalah pentingnya dari komponen belajar yang lain.

Penggunaan model atau metode yang tepat dan bervariasi akan dapat dijadikan sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Selain sebagai alat motivasi ekstrinsik, model pembelajaran juga merupakan strategi untuk mencapai tujuan (Djamarah, 2004). Disadari bahwa daya serap siswa terhadap materi pelajaran bervariasi, ada yang cepat, ada yang sedang dan ada yang lambat. Cepat lambatnya penerimaan siswa terhadap materi pelajaran menghendaki pemberian waktu yang bervariasi, sehingga ketuntasan dapat tercapai. Perbedaan daya serap ini memerlukan strategi pembelajaran yang tepat.

Perlakuan terhadap anak yang memiliki daya serap tinggi tentu saja tidak bisa disamakan dengan anak yang memiliki daya serap rendah (Djamarah, 2004). Karena itu dalam kegiatan belajar mengajar menurut Roestiyah (1989) guru harus memiliki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Team Accelerated Instruction atau Team Assisted Individualization merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang menggunakan tim-tim pembelajaran dengan empat anggota ber-kemampuan heterogen dan memberikan sertifikat untuk tim yang berkinerja tinggi (Slavin dalam Nur, 2005). Jika dibandingkan dengan tipe kooperatif yang lain seperti STAD dan TGT maka ketiganya memiliki persamaan dalam hal jumlah anggota kelompok dan pemberian penghargaan kelompok. Bedanya adalah bila STAD dan TGT menggunakan sebuah tatanan pengajaran tunggal untuk kelas, TAI menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pengajaran individual. Di samping itu bila STAD dan TGT diterapkan hampir pada semua kelas III-VI, maka pada TAI siswa masuk dalam sebuah urutan kemampuan individual sesuai dengan hasil tes penempatan (placement test), dan kemudian maju sesuai dengan kecepatannya sendiri.

Dalam TAI pada umumnya anggota tim bekerja pada unit-unit bahan ajar yang berbeda (Slavin dalam Nur, 2005). Siswa saling memeriksa pekerjaan teman sesama tim dengan dipandu oleh lembar jawaban dan saling mem-bantu dalam memecahkan setiap masalah. Tes unit akhir dikerjakan tanpa bantuan teman sesama tim. Setiap minggu, guru menjumlah banyak unit yang diselesaikan oleh seluruh anggota tim dan memberikan sertifikat atau bentuk penghargaan tim lain kepada tim yang melampaui suatu skor kriteria yang didasarkan pada jumlah tes akhir yang dinyatakan tuntas itu, dengan poin ekstra untuk pekerjaan sempurna dan pekerjaan rumah yang diselesaikan dengan baik. Karena siswa memiliki tanggung jawab untuk saling memeriksa pekerjaan mereka dan mengelola aliran bahan ajar, guru dapat meng-gunakan sebagian besar waktu pelajaran untuk mempresentasikan pelajaran kepada kelompok-kelompok kecil siswa yang berasal dari berbagai tim yang sedang bekerja pada pokok bahasan yang sama.

Dalam TAI siswa memiliki dinamika motivasi yang tinggi. Siswa terdorong dan saling membantu satu sama lain agar berhasil karena mereka ingin tim mereka berhasil. Tanggung jawab individual terjamin karena satu-satunya skor yang diperhitungkan adalah skor tes final, dan siswa mengerjakan tes tersebut tanpa bantuan teman sesama tim. Siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil karena semua siswa telah ditempatkan sesuai dengan tingkat penge-tahuan awal mereka, sama mudahnya (atau sama sukarnya) bagi seorang siswa dengan hasil belajar rendah, untuk menyelesaikan materi yang lebih mudah dalam suatu minggu seperti yang dialami oleh seorang siswa sesama tim dengan hasil belajar tinggi untuk menyelesaikan materi yang lebih sulit.

Pada prinsipnya dalam TAI siswa bekerja pada kecepatan mereka sendiri, sehingga apabila mereka lemah dalam keterampilan-keterampilan prasyarat mereka, mereka terlebih dahulu dapat membangun sebuah landasan kuat berupa keterampilan prasyarat tersebut sebelum mereka belajar pokok bahasan lebih tinggi. Sebaliknya apabila siswa dapat belajar lebih cepat, mereka tidak perlu menunggu sisa teman sekelas mereka.

Metode
Sebagai subyek penelitian adalah kelas X.3 SMA Negeri 2 Banjarmasin dengan jumlah siswa 34 orang. Pertimbangan pemilihan subyek penelitian didasarkan atas tingkat heterogenitas siswanya. Kelas yang dipilih sebagai subyek penelitian ini adalah kelas yang memiliki tingkat heterogenitas yang tinggi, baik dalam hal kemam-puan akademis maupun keaktifan dalam belajar dan berdiskusi.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 3 siklus. Pada siklus I dan II masing-masing dilaksanakan 4 kali pembelajaran, dan pada siklus III sebanyak 5 kali pembelajaran. Materi pela-jaran pada ketiga siklus ini adalah pokok bahasan (1) Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur, (2) Ikatan Kimia. Setiap siklus terdiri atas tahapan-tahapan sebagai berikut: Pada siklus I tahap perencanaan meliputi hal-hal seperti: (1) Pembagian materi pelajaran menjadi unit-unit bahan ajar sesuai dengan tingkat kesulitan dan keluasan materi.

Ada 2 Pokok Bahasan yang diajarkan yaitu Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur; serta Ikatan Kimia; Kedua pokok bahasan ini kemudian dibagi menjadi 4 level dimana masing-masing pokok bahasan terdiri atas 2 level. Dengan demikian seluruh materi pelajaran terbagi atas 4 unit bahan ajar. (2) Penyusunan rencana pembelajaran dan ske-nario pembelajaran. (3) Penyusunan LKS, sebanyak 4 LKS sesuai dengan pembagian materi dalam renpel. (4) Penyusunan instrumen penelitian berupa soal placement test, dan soal-soal THB. (5) Penyusunan instrument afektif (6) Penyusunan instrumen observasi dan perang-kat penilaian pembelajaran kooperatif (7) Pembuatan sertifikat penghargaan tim,.........baca makalah ini dari sumber aslinya.
Di dalam sejarah psikologi pendidikan, revolusi konstruktivisme mempunyai akar sejarah yang panjang. Pendekatan yang dilandasi teori konstruktivisme ini sumber utamanya adalah karya Jean Piaget dan Lev Vigotsky. Baik Piaget maupun Vygotsky menekankan sifat sosial pembelajaran, mereka juga menyarankan penggunaan kelompok-kelompok dalam belajar dengan kemampuan campuran (bervariasi) untuk meningkatkan terjadinya perubahan konsepsi pada diri pebelajar atau siswa.


Konstruktivis modern paling banyak dilandasi oleh teori Vygotsky, yang telah digunakan untuk mendukung metode pengajaran di ruang kelas yang menekankan pembelajaran kerja sama (pembelajaran kooperatif) dan berbasis proyek, dan pembelajaran penemuan (discovery - inquiry).

Ada empat gagasan utama Vygotsky yang sangat penting, yaitu:
Penekanan pada sifat sosial pembelajaran. 
Anak bejar melalui interaksi bersama orang dewasadan teman yang lebih mampu. Pada proyek-proyek kerjasama, anak-anak dihadapkan pada proses pemikiran teman-teman mereka. Metode demikian tidak hanya memungkinkan hasil pembelajaran tersedia bagi semua siswa, tetapi juga memungkinkan proses berpikir siswa yang lebih mampu tersedia bagi siswa-siswa yang lain. Vygotsky menulis bahwa, orang-orang yang berhasil memecahkan masalah mengungkapkan diri melalui masalah-masalah yang sulit. Dalam sebuah kelompok kooperatif, anak-anak dapat mendengarkan pembicaraan batin ini dengan lantang dan dapat mempelajari cara orang-orang yang berhasil memecahkan masalah berpikir melalui pendekatan mereka.

Zona Perkembangan Proksimal.
Vygotsky mempunyai gagasan bahwa anak-anak paling baik mempelajari konsep yang berada pada zona perkembangan proksimal mereka. Anak-anak yang bekerja dalam zona perkembangan proksimal mereka terlibat dalam tugas yang tidak dapat mereka kerjakan sendiri tetapi dapat mengerjakannya dengan sedikit bantuan teman atau orang dewasa.

Masa Magang Kognisi
Istilah masa magang kognisi (cognitive apprenticeship) merujuk pada proses yang digunakan oleh seorang pebelajar untuk secara bertahap memperoleh keahlian melalui interaksi dengan pakar, apakah orang tua, guru, atau teman yang lebih tua atau lebih berhasil. Di banyak pekerjaan, karyawan baru bekerja erat dengan seorang pakar yang menjadi contoh baginya, memberikan umpan balik, dan secara bertahap mensosialisasikan karyawan baru itu kepada kaidah dan perilaku profesi tersebut. Pengajaran untuk siswa adalah suatu bentuk masa magang. Para ahli teori konstruktivisme menyarankan agar guru mengalihkan model pembelajaran yang berlangsung lama dan sangat efektif ini ke dalam ruang-ruang kelas. Guru dapat melibatkan siswa dalam tugas-tugas rumit dan melibatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang heterogen dan kooperatif di mana siswa yang lebih maju membantu siswa yang kurang maju melalui tugas-tugas yang rumit tersebut.

Pembelajaran Termediasi
Yang keempat, Vygotsky menekankan pada gagasan tentang perancahan atau pembelajaran termediasi. Gagasan Penafsiran tentang gagasan Vygotsky yang satu ini adalah, siswa seharusnya diberikan tugas-tugas yang rumit, sulit, dan realistis. Kemudian, mereka diberikan cukup bantuan untuk mencapai tugas-tugas ini. Harus dicatat bahwa, diberikan bantuan di sini maksudnya, siswa bukannya diajarkan bagian-bagian kecil pengetahuan. Prinsip ini digunakan untuk mendukung penggunaan tugas proyek di ruang kelas, simulasi, penjajakan dalam komunitas, penulisan untuk pembaca yang sesungguhnya, dan tugas-tugas otentik lainnya. Berkaitan dengan hal ini, ada istilah "pembelajaran situasi" (situated learning), yang mengacu pada digunakannya pembelajaran yang berlangsung dalam tugas-tugas otentik kehidupan nyata.

Senin, 20 Februari 2012

Teori pembelajaran konstruktivis (constructivist theories of learning) adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa masing-masing pebelajar harus menemukan dan mengubah informasi yang rumit, dengan cara memeriksa informasi baru terhadap aturan lama dan mengubah aturan apabila hal itu tidak lagi berguna.

"Guru tidak dapat hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa itu sendirilah yang harus membangun pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri." Demikian adalah salah satu prinsip terpenting dari psikologi pendidikan terkait teori konstruktivis. Cara yang dapat dilakukan guru untuk membantu siswa melakukan hal ini adalah dengan menjadikan informasi bermakna dan relevan bagi siswa. Guru juga dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan gagasan-gagasan. Selain itu guru dapat mengajari siswa untuk mengetahui dan dengan sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Juga, guru dapat memberikan tangga menuju pemahaman yang lebih tinggi, namun siswa sendirilah yang seharusnya memanjat tangga ini.

Pandangan teori konstruktivis mempunyai implikasi yang sangat besar bagi pengajaran dan pembelajaran. Teori ini menyarankan peran aktif yang lebih besar dari siswa dalam belajar. Oleh karenanya, pembelajaran konstruktivis sering pula disebut sebagai pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pada pembelajaran yang berpusat pada siswa ini, guru menjadi "pemandu di samping", bukan sebagai "orang bijaksana di atas panggung", dengan cara membantu siswa menemukan makna mereka sendiri, bukannya mengajari dan menguasai semua kegiatan di ruang kelas.

Pembelajaran konstruktivis sangat dibutuhkan penerapannya, karena pembelajaran jauh melebihi daya ingat siswa. Agar siswa benar-benar dapat memahami dan menerapkan pengetahuan, mereka harusnya diberikan kesempatan menyelesaikan masalah, menemukan sesuatu bagi diri mereka sendiri, berkutat dengan gagasan-gagasan. Misalnya, seorang guru matematika dapat saja langsung memberikan rumus volume silinder, lalu guru dapat meminta mereka berlatih agar mampu memasukkan angka-angka ke dalam rumus tersebut dan menghasilkan jawaban yang benar. Akan tetapi, seberapa bermakna pembelajaran demikian bagi diri siswa? Seberapa baikkah siswa akan menerapkan gagasan di balik rumus tersebut untuk menyelesaikan masalah-masalah lain? Sekali lagi, tugas pendidikan bukanlah menuangkan informasi ke dalam kepala siswa, tetapi melibatkan secara aktif pikiran siswa dengan konsep-konsep ampuh dan bermanfaat.

Jumat, 17 Februari 2012

Catatan: Makalah ini dipublikasikan di blog ini dengan tujuan untuk meningkatkan kemudahan para pendidik untuk memperolehnya dengan lebih banyak terindeks pada search engine. Makalah ini sepenuhnya bukan milik saya. Bila Anda pemilik makalah ini dan merasa bahwa tidak semestinya makalah ini diterbitkan di http://gudangptk77.blogspot.com/, silakan menghubungi saya di sini, maka dengan senang hati saya akan menghapus konten ini. Terimakasih (admin).

PENERAPAN STRATEGI "DIRECTED READING ACTIVITY" (DRA) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI "CONTENT SUBJECT" MAHASISWA PROGRAM STUDI BAHASA INGGRIS FKIP UNIVERSITAS RIAU

Oleh; 
Indah Tri Purwanti

Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Riau
Kampus Bina Widya Pekanbaru Riau
Telp. 0761-63267, Fax.0761-62761

Abstract: This classroom action research was conducted to increase students’ ability in comprehending content subject Introduction to Linguistics through the use of Directed Reading Activity strategy. The subjects were the fourth semester students taking Introduction to Linguistics. Before the treatment was conducted, a pre – test was administered and a post test was also held at the end of the treatment. The procedures of applying Directed Reading Activity strategy are : preparation, directed silent reading, and follow up. From the two cycles applied, there was an increase of the mean score form the pre-test (61.43) to the mean score after the first cycle (68.13) in which it still did not achieve the standart competency applied, and to the mean score after the second cycle (73) which was higher than the standard competency (e” 70). ‘t’ test was used to test the effectiveness of the approach by analyzing the difference between the result of pre – test and post – test. The result indicates that the ‘t’ observed value (7.57) is greater than the value of ‘t’ table at the level of significance of 0.5 ( 2.021) and 0.1 (2.704). This means that Directed reading activity strategy is effective in increasing the students’ ability in comprehending content subject Introduction to Linguistics.

Keywords : directed reading activity strategy, and content subject comprehension.

Pendahuluan
Kurikulum Program Studi bahasa Inggris menyajikan 3 kelompok besar mata kuliah, yaitu : MKU, MKDK, dan MKK. Mata kuliah keahlian (MKK) terdiri atas skill courses dan content courses. Skill courses meliputi mata kuliah ketrampilan berbahasa seperti: Listening, Speaking, Reading, dan Writing. Content courses meliputi mata kuliah yang berkaitan dengan ilmu kebahasaan ataupun pengajaran seperti : Introduction to Linguistics, Literature, Psycholinguistics dll. Menurut McKenna dan Robinson (1990:184), untuk meningkatkan pembelajaran mata kuliah-mata kuliah content courses yaitu dengan banyak membaca dan menulis.

Keterampilan membaca atau memahami isi teks adalah sangat penting bagi semua mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Mempunyai keterampilan membaca yang baik akan membuat seorang mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris mampu memahami teks karena banyak materi perkuliahan terutama content subject disajikan dalam teks. Pada kenyataanya, banyak mahasiswa yang tidak mampu memahami isi teks perkuliahan terutama mata kuliah content courses. Hal ini mungkin disebabkan materi buku teks untuk materi kuliah skill courses isinya lebih bersikap praktikal, sementara isi materi kuliah content
courses memerlukan tingkat pemahaman yang lebih dalam. Sehubungan dengan hal tersebut fenomena yang muncul adalah kemampuan mahasiswa dalam memaparkan materi pada saat diskusi kelas ataupun saat ujian rendah karena kemampuan memahami teksnya rendah sehingga nilai mahasiswa untuk mata kuliah content courses lebih rendah daripada nilai yang didapat dari mata kuliah skill courses. Bahkan mahasiswa yang memiliki kemampuan baik pada mata kuliah skill courses, tidak selalu memiliki kemampuan yang sama pada
mata kuliah content courses. Sebagai pengajar perlu mengembangkan kemampuan literasi dalam content subjects sehingga pembelajar dapat mempelajari content subjects dengan lebih efektif. Untuk mengatasi masalah kurangnya kemampuan memahami teks content courses di atas, penulis mencoba menerapkan strategi Directed Reading Activity dalam pengajaran content subjek Introduction to Linguistics.

Directed Reading Activity merupakan strategi yang terdiri atas 3 fase meliputi: preparation, direted silent reading, and follow up. Fase preparation  dimulai dengan mengaktifkan schemata pembelajar, memperkenalkan kosa kata baru, dan menetapkan tujuan-tujuan membaca. Dalam fase directed silent reading, pembelajar membaca teks dalam hati dengan berpedoman dan menjawab tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan pada langkah terakhir fase preparation. Fase Follow-up pengajar memastikan bahwa 1) tujuan yang ditetapkandapat dicapai, dan mengarahkan pembelajar untuk mereview dan menilai sendiri pemahamannya; 2) mengarahkan pembelajar untuk menganalisa atau mereview dan refleksi isi dan
dimotivasi untuk mendiskusikan isi; dan 3) memberikan pengayaan (Eanes, 1997:112-114). Dengan
penerapan strategi ini, diharapkan kemampuan memahami teks content subject Introduction to Linguistics meningkat.

Berdasarkan uraian di atas, masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penerapan strategi Directed Reading Activity (DRA) dapat meningkatkan kemampuan pemahaman mahasiswa terhadap content subject Introduction to Linguistics secara signifikan ? “

Keterampilan membaca adalah perolehan makna dari bahan yang tertulis. Dari perolehan makna tersebut, terjadi interaksi antara pembaca dan penulis. Interaksi tersebut merupakan gabungan dari pengetahuan pembaca yang terdahulu dengan informasi tertulis dari penulis; dan gabungan itu menghasilkan pemahaman terhadap pesan yang disampaikan penulis. Harris dan Sipay sebagaimana yang dikutip oleh Reynolds (1982:
25) mendefinisikan keterampilan membaca yaitu merupakan perolehan arti sebagai hasil dari gabungan
antara persepsi tentang simbol-simbol grafis yang mewakili bahasa dan apa yang sudahdiketahui pembaca baik pengalaman verbal maupun nonverbal. Pengalaman ini menjelaskan bahwa melalui membaca seseorang akan memperoleh informasi, dan informasi ini diekspresikan jika bentuk bentuk simbol grafis memberikan arti bagi pembaca. Informasi tersebut dapat berupa pengalaman verbal maupun nonverbal.

Hall, sebagaimana yang dikutip oleh Reynold (1982:25), Gibson (1985:10) menjelaskan bahwa keterampilan membaca adalah suatu proses komunikasi dimana symbol-symbol diproses, sehingga sampai kepada interpretasi yang berarti dari apa yang disampaikan. Selanjutnya, dijelaskan bahwa keberartian interpretasi tersebut tergantung kepada maksud/tujuan pembaca, sikap keyakinan dimana dia mengharapkan para pembaca untuk mengerti. Untuk memahami pesan tersebut, para pembaca harus memiliki keterampilan
dan pengalaman membaca sehingga mereka mampu memahami teks yang mereka baca.

Pendapat tersebut di atas didukung oleh Nuttal (1982:12) yang mendefinisikan kemampuan membaca sebagai suatu interpretasi yang sangat berarti dari simbol-simbol verbal yang tercetak maupun yang tertulis. Hal ini berarti bahwa membaca merupakan suatu interaksi antara persepsi dari simbol-simbol grafis yang menjelaskan bahasa dan kemampuan berbahasa pembaca, kemampuan kognitif, dan pengetahuan tentang
dunia luar. Dalam proses ini pembaca mencoba menciptakan kembali maksud-maksud ataupun.........baca langsung dari sumber aslinya.
Catatan: Makalah ini dipublikasikan di blog ini dengan tujuan untuk meningkatkan kemudahan para pendidik untuk memperolehnya dengan lebih banyak terindeks pada search engine. Makalah ini sepenuhnya bukan milik saya. Bila Anda pemilik makalah ini dan merasa bahwa tidak semestinya makalah ini diterbitkan di http://gudangptk77.blogspot.com/, silakan menghubungi saya di sini, maka dengan senang hati saya akan menghapus konten ini. Terimakasih (admin).

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT BERBASIS MULTIMEDIA DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI

Nopiyanti
Dr, Dedi Rohendi, MT.
Drs. Heri Sutarno, MT.

Pendidikan Ilmu Komputer FPMIPA UPI

ABSTRAK
Teams Games Tournament (TGT) [2] adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 siswa sehingga bekerja dalam kelompok. Pembelajaran disertai dengan adanya permainan akademik untuk memastikan setiap anggota kelompok menguasai pelajaran yang diberikan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimental-semu atau quasi-experimental research. Data dikumpulkan melalui instrumen tes yang berbentuk pilihan ganda. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji T. Penelitian ini dilakukan pada sampel yang terdiri dari dua kelas masing-masing berjumlah 38 orang, yaitu kelas VIII-E
sebagai kelas eksperimen yang diberi pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbasis multimedia dan kelas VIII-G sebagai kelas kontrol yang diberi pembelajaran konvensional berbasis multimedia. Dari hasil eksperimen, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran TIK dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif TGT berbasis multimedia lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional berbasis multimedia.

Kata Kunci: multimedia, cooperative learning, teams games tournament, matapelajaran teknologi informasi dan komunikasi

1. PENDAHULUAN
Sistem pendidikan dewasa ini telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Berbagai cara telah dikenalkan serta digunakan dalam proses belajar mengajar dengan harapan pengajaran guru akan lebih berkesan dan pembelajaran bagi murid akan lebih bermakna. Sejak beberapa tahun belakangan ini teknologi informasi dan komunikasi telah banyak digunakan dalam proses belajar mengajar, dengan harapan mutu pendidikan akan selangkah lebih maju seiring dengan kemajuan teknologi. Perkembangan teknologi multimedia telah menjanjikan potensi besar dalam mengubah cara seseorang untuk belajar, untuk memperoleh informasi, menyesuaikan informasi dan sebagainya. Multimedia juga menyediakan peluang bagi pendidik untuk mengembangkan teknik pembelajaran sehingga menghasilkan hasil yang maksimal. Demikian juga
bagi pelajar, dengan multimedia diharapkan mereka akan lebih mudah untuk menentukan dengan apa dan bagaimana siswa dapat menyerap informasi secara cepat dan efisien.

Kemampuan teknologi multimedia yang telah terhubung internet akan semakin menambah kemudahan dalam
mendapatkan informasi yang diharapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah
hasil belajar peserta didik menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berbasis multimedia lebih
baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional berbasis multimedia.



2. TGT (Teams Games Tournament)
Menurut Slavin [3] TGT terdiri dari 5 langkah tahapan yaitu: tahap penyajian kelas (class precentation), belajar dalam kelompok (teams), permainan (games), pertandingan (tournament), dan perhargaan kelompok
( team recognition). TGT [2] adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok,
diharapkan dapat memotifasi siswa untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran. Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam kelompok mereka masing-masing. Dalam kerja kelompok guru memberikan LKS kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama-sama dengan anggota kelompoknya. Apabila ada dari anggota kelompok yang tidak mengerti dengan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertanggungjawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru. Hal ini akan menyebabkan tumbuhnya rasa kesadaran pada diri siswa bahwa belajar
secara kooperatif itu menyenangkan.

Untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran, maka seluruh siswa akan diberikan permainan akademik. Dalam permainan akademik siswa akan dibagi dalam meja-meja turnamen, dimana setiap meja turnamen terdiri dari 5 sampai 6 orang yang merupakan wakil dari kelompoknya masing-masing. Dalam setiap meja permainan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Siswa dikelompokkan dalam satu meja turnamen secara homogen dari segi kemampuan akademik, artinya dalam satu meja turnamen kemampuan setiap peserta diusahakan agar setara.

Permainan ini diawali dengan memberitahukan aturan permainan. Setelah itu permainan dimulai dengan
membagikan kartu-kartu soal untuk bermain (kartu soal dan kunci ditaruh terbalik di atas meja sehingga soal dan kunci tidak terbaca). Permainan pada tiap meja turnamendilakukan dengan aturan sebagai berikut. Pertama, setiap pemain dalam tiap meja menentukan dulu pembaca soal dan pemain yang pertama dengan cara undian. Kemudian pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh pemain. Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal. Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan
membacakan hasil pekerjaannya yang akan ditangapi oleh penantang searah jarum jam.

Setelah itu pembaca soal akan membuka kunci jawaban dan skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar atau penantang yang pertama kali memberikan jawaban benar. Jika semua pemain menjawab salah maka kartu dibiarkan saja. Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan, dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain, dan penantang. Disini permainan dapat dilakukan berkali-kali dengan syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama sebagai pemain, penantang dan pembaca soal. Dalam permainan ini pembaca soal hanya bertugas untuk membaca
soal dan membuka kunci jawaban, tidak boleh ikut menjawab atau memberikan jawaban pada peserta lain.
Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain dalam satu meja menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan berapa poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh. Ketua kelompok memasukkan poin yang diperoleh anggota kelompoknya pada tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan kriteria penghargaan yang diterima oleh kelompoknya.

Skor yang diperoleh setiap peserta dalam permainan akademik dicatat pada lembar pencatat skor. Skor kelompok diperoleh dengan menjumlahkan skor-skor yang diperoleh anggota suatu kelompok, kemudian dibagi banyaknya anggota kelompok tersebut. Skor kelompok ini digunakan ......baca selengkapnya dari sumber aslinya.

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!